JagoSatu.com - Sony bawa konsep "nggak punya apa-apa tapi tetap senang" ke level baru. PlayStation UK lagi uji coba program sewa PS5 mulai £9,95 per bulan. Tawaran ini memang menggoda dompet, tapi bisa jadi masalah jangka panjang.
Kalau kita bedah skema harganya, biaya £9,95 itu harus komitmen 36 bulan buat PS5 Digital Edition. Kalau mau sewa setahun, harganya naik jadi £14,59 per bulan. Intinya, makin lama menyewa, makin banyak kalian bayar cuma buat "numpang" pakai.
Dilansir oleh TechPowerUp, total biaya sewa 36 bulan mencapai £358,20. Nyeseknya, setelah tiga tahun membayar hampir setara harga beli, konsol itu tetap bukan milik kalian. Kalian harus mengembalikannya atau terus membayar biaya bulanan tanpa henti.
Sony nggak cuma sewain konsol standar saja. Kalian bisa tambah PS5 Pro, controller DualSense Edge, sampai PlayStation VR2 ke tagihan. Bikin seluruh setup gaming jadi cicilan rutin bulanan kayak bayar listrik rasanya benar-benar sangat memberatkan.
Ada opsi sewa "bebas" seharga £19,49 per bulan yang bisa dibatalkan kapan saja tanpa ikatan. Ini satu-satunya solusi buat yang nggak mau ribet kalau kalian cuma pengen namatin satu game eksklusif tertentu dalam waktu singkat.
Dilaporkan oleh TechPowerUp, mahalnya komponen GPU dan memori bikin produsen mau ubah pembeli jadi pelanggan tetap. Tren "Konsol sebagai Layanan" ini mirip langganan laptop gaming HP Omen yang harganya bisa tembus $129,99 per bulan.
Reaksi komunitas gaming sangat dingin terhadap kabar ini. Para kritikus menilai skema ini sebagai "jebakan" yang dibungkus bodi putih kinclong. Targetnya adalah orang-orang yang tergiur cicilan murah tanpa menghitung total biaya akhir yang dibayarkan.
Dikutip dari TechPowerUp, asuransi sewa ini ternyata nggak meng-cover masalah "stick drift" pada controller. Padahal itu bagian paling ringkih. Membayar perlindungan bulanan yang tidak mencakup kerusakan paling umum tentu saja sangat merugikan bagi para penyewa.
Beberapa pengamat menduga ini cara Sony "bersihin" stok gudang yang nggak laku terjual. Dengan sistem sewa, stok barang tetap jalan dan uang terus mengalir. Sony seolah memanfaatkan penggemar fanatiknya demi menjaga angka laporan keuangan mereka.
Daripada menyewa tanpa hak milik, banyak user menyarankan pakai jasa pembiayaan resmi. Dengan begitu, perangkat tersebut bakal jadi milik kalian sepenuhnya di akhir masa cicilan. Skema sewa Sony ini dianggap eksploitatif karena tidak ada opsi membeli.
Gamer angkatan lama pasti ingat zaman beli konsol sekali untuk selamanya. Sekarang, mulai dari PS Plus sampai sewa perangkat, kita cuma menyewa akses hiburan saja. Sepertinya, masa depan di mana "memiliki" teknologi bakal jadi kemewahan tersendiri.
Berdasarkan analisis industri yang dilansir oleh TechPowerUp, keberhasilan model bisnis sewa ini masih belum pasti. Brand lain seperti NZXT pernah mencoba hal serupa tapi belum sukses besar. Sepertinya gamer lebih cerdas dalam mengatur anggaran bulanan mereka.
Buat yang cuma penasaran main Horizon Hunters, paket bulanan mungkin jadi uji coba yang oke. Tapi buat gamer harian, menabung tetap jadi pilihan paling logis. Menyewa konsol itu ibarat menyewa kaus kaki; rasanya benar-benar tidak perlu dilakukan.
Orang tua harus waspada dan mengedukasi anak-anak soal bahaya hidup dari kredit. Tekanan media sosial sering bikin remaja merasa butuh teknologi terbaru demi gengsi atau FOMO. Sony terlihat memanfaatkan celah ini untuk menarik pelanggan melalui skema sewa.
Strategi Sony ini benar-benar mengubah konsep kepemilikan barang di masa depan. Perusahaan bertaruh kalian lebih suka bayar murah selamanya daripada menabung untuk beli putus. Jadi, kalian mending sewa konsol sekarang atau sabar menabung sampai PS6 rilis? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung