JagoSatu.com - Ibarat ingin membuat sandwich tapi rotinya habis di seluruh kota, begitulah kondisi Valve saat ini. Raksasa teknologi tersebut akhirnya mengonfirmasi bahwa masalah stok Steam Deck OLED disebabkan oleh krisis RAM dan penyimpanan global.
Bak mencari game adaptasi film yang bagus, Steam Deck OLED kini mulai langka. Valve mengakui bahwa stok di beberapa wilayah sering kosong berkala, membenarkan dugaan bahwa masalah rantai pasokan mulai menyerang produk terlaris mereka.
Dilansir oleh TechRadar, krisis RAM ini menjadi berita buruk bagi rencana hardware masa depan Valve. Jika menjaga stok perangkat yang ada saja kesulitan, proyek PC hybrid ruang tamu mereka bisa berada dalam masalah serius.
Steam Machine yang dijadwalkan meluncur awal 2026 kini terancam ditunda atau dijual sangat mahal. Harapan untuk melihat harga yang bersaing dengan konsol sepertinya hanya menjadi sebatas angan-angan karena lonjakan biaya produksi memori.
VRAM 8GB di tahun 2026 tentu terasa sangat pas-pasan. Valve kemungkinan tidak bisa lagi memberikan subsidi harga, sehingga menjual perangkat berspesifikasi tanggung dengan harga tinggi hanya akan berakhir menjadi sebuah kegagalan total.
Dikutip dari TechRadar, harga di atas $1.000 bakal sulit diterima konsumen. Angka tersebut melompat jauh dari janji awal tentang PC entry-level yang terjangkau. Rasanya lebih mending merakit PC sendiri daripada membayar mahal demi merek.
Skenario terburuknya, krisis ini bisa memaksa Valve menghentikan produksi Steam Deck OLED sebelum generasi kedua siap. Jika itu terjadi, perkembangan ekosistem game Linux yang sedang tumbuh bakal mengalami kerugian besar dan langkah mundur.
Situasi ini semakin rumit karena Valve juga berencana merilis headset VR Steam Frame di tahun 2026. Meluncurkan dua produk haus memori di tengah kelangkaan global ibarat bermain game di tingkat kesulitan paling tinggi.
Ada spekulasi bahwa Valve sengaja membatasi stok handheld demi menimbun chip untuk Steam Machine. Meski langkah bisnis ini terbilang cerdas, tentu sangat menyebalkan bagi konsumen yang hanya sekadar ingin memiliki perangkat genggam tersebut.
Valve memang dikenal ramah konsumen, namun realitas pasar bisa memaksa mereka mengubah kebijakan harga. Walaupun keuntungan dari toko Steam sangat melimpah, tetap ada batasannya dalam menyubsidi biaya produksi hardware yang kian mahal.
Konsep PC hybrid ruang tamu seharusnya menjadi jembatan bagi para gamer. Namun, dengan biaya komponen yang naik berkali-kali lipat, jembatan tersebut kini menjadi sangat mahal untuk dibangun oleh Valve dalam waktu dekat.
Dilansir oleh TechRadar, menunda peluncuran mungkin menjadi pilihan terbaik demi menghindari harga ritel yang tidak masuk akal. Sayangnya, belum ada tanda-tanda bahwa kelangkaan memori ini akan mereda akibat tren teknologi AI yang terus melonjak.
Masalah ini sebenarnya dirasakan seluruh industri, bukan cuma Valve. Brand besar seperti ASUS dan Sony juga dilaporkan sedang mempertimbangkan kenaikan harga atau penundaan produk karena sulitnya mendapatkan komponen RAM yang memadai tahun ini.
Meski software Proton sudah sangat matang menjalankan game Windows di SteamOS, hardware tetaplah penentu utama. Tanpa ketersediaan silikon yang cukup, impian mengenai "tahun kejayaan game Linux" kemungkinan besar akan kembali tertunda.
Saat ini Valve terjebak antara merilis produk mahal atau menundanya hingga antusiasme meredup. Nah, kalian tim yang rela nabung buat Steam Machine mahal atau mending bertahan dengan Steam Deck lama? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung