Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Ancaman Blacklist dan Robot Pembunuh: Pertarungan Etika AI Paling Panas

Toar Rotulung • 2026-03-02 13:16:43

Anthropic, perusahaan research dan AI safety
Anthropic, perusahaan research dan AI safety

JagoSatu.com - Hubungan Pentagon dan Anthropic lagi panas-panasnya bersitegang hingga di ujung tanduk. Masalahnya cuma satu: bolehkah militer memakai AI Claude di medan perang tanpa batasan keamanan yang ketat? Ini benar-benar skenario masa depan peperangan yang nyata.

Pihak militer minta semua pagar pembatas dicabut dan diganti dengan aturan penggunaan sah saja. Namun, Anthropic tetap teguh pada pendiriannya. Mereka khawatir teknologi ini bakal disalahgunakan buat senjata otonom atau pengawasan massal yang melanggar privasi.

Dilansir oleh Reuters, Pentagon mengancam bakal melabeli Anthropic sebagai "risiko rantai pasokan" kalau mereka nggak menyerah sampai Jumat. Label ini sangat berbahaya karena bisa bikin Anthropic dilarang kerja sama dengan kontraktor pertahanan mana pun di dunia.

CEO Anthropic, Dario Amodei, mengingatkan kalau AI saat ini larinya jauh lebih kencang dari aturan hukum. Ia takut Claude dipakai buat memata-matai warga sipil secara diam-diam. Kita mungkin perlu mendengarkan orang yang membangun AI itu sendiri.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth sudah bertemu Amodei minggu ini, tapi negosiasinya mentok banget tanpa solusi. Anthropic merasa revisi kontrak dari pemerintah hampir nggak ada kemajuan dalam melindungi nilai-nilai demokrasi. Situasi yang benar-benar membingungkan bagi kedua pihak.

Dikutip dari Reuters, Pentagon bahkan mengancam bakal memakai undang-undang khusus buat menyita isi otak chatbot mereka secara paksa. Ini seperti memaksa perusahaan menyerahkan kodenya tanpa peduli soal etika. Benar-benar mirip cerita di film thriller teknologi.

Menariknya, raksasa lain seperti OpenAI dan Google justru sudah tanda tangan kontrak senilai 200 juta dolar dengan Pentagon. Anthropic sekarang seperti berjuang sendirian di pulau terpencil, sementara rival-rival mereka di Silicon Valley mulai meraup keuntungan besar.

Senator Elissa Slotkin mengingatkan kita semua kalau publik nggak ingin sistem senjata membunuh orang tanpa pengawasan manusia. Namun, Pentagon mengklaim kekhawatiran soal "robot pembunuh" itu cuma isu yang dibesar-besarkan. Perdebatan ini sekarang terasa sangat nyata.

Dilansir oleh Reuters, Pentagon minta kontraktor besar seperti Lockheed Martin mengecek ketergantungan mereka pada Anthropic. Kabar ini tentu bikin guncangan bagi 60.000 kontraktor pertahanan. Bayangkan betapa rumitnya kalau perangkat lunak utama mereka tiba-tiba dianggap berisiko.

Sean Parnell selaku juru bicara Pentagon memposting di X bahwa mereka ogah dituduh melakukan pengawasan ilegal. Ia menganggap drama ini cuma dilema yang sengaja disebarkan pihak tertentu, bukan masalah keamanan AI yang benar-benar serius bagi militer.

Padahal, Anthropic adalah pionir AI yang dipercaya menangani data rahasia lewat layanan Amazon. Kalau sampai kehilangan posisi di militer, ini bakal jadi pukulan telak buat bisnis mereka. Ini adalah momen pembuktian bagi janji etika mereka.

Dikutip dari Reuters, mantan pejabat pertahanan Chris Miller bilang kalau ini adalah momen pembuktian buat perusahaan AI. Kalau Anthropic sampai menyerah atau bangkrut, slogan "AI yang manusiawi" cuma bakal berakhir jadi kata-kata manis di brosur marketing.

Pentagon bersikeras kalau merekalah yang berhak membuat keputusan militer akhir, bukan perusahaan swasta. Mereka ingin fleksibilitas penuh buat memenangkan perang teknologi. Ketegangan antara bergerak cepat dan menjaga nyawa manusia belum pernah setinggi ini sebelumnya.

Kalau batas waktu hari Jumat lewat tanpa kesepakatan, masa depan Anthropic bisa berada dalam bahaya besar. Mereka lagi balapan dengan waktu buat membuktikan kalau prinsip keselamatan nggak bisa ditukar dengan uang, meskipun nilainya miliaran dolar.

Pentagon ingin AI tanpa batasan, dan cuma Anthropic yang berani menghalangi jalan mereka. Ini bukan cuma soal bisnis, tapi soal masa depan keamanan nasional. Nah, menurut kalian, lebih aman mana: mengikuti aturan militer atau tetap menjaga etika AI? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung