JagoSatu.com - Gara-gara Cybertruck miliknya nyaris terjun bebas dari jembatan layang, seorang pemilik di Texas nekat menggugat Tesla senilai 15 miliar rupiah. Gugatan ini menuduh adanya kecerobohan tingkat tinggi setelah kecelakaan mengerikan di jalan raya Houston.
Pengemudi bernama Justine Saint Amour ini sedang menggunakan mode FSD di Jalan Raya 69 Eastex saat mobilnya mengalami eror mendadak tanpa aba-aba. Meski sudah berusaha mengambil alih kendali, truknya tetap menghantam pembatas jalan.
Dilansir oleh 404media, rekaman dashcam memperlihatkan truk tersebut malah melompati persimpangan dan menabrak rambu jalan. Elon Musk pun disebut sebagai pedagang nggak bertanggung jawab yang hobi menjanjikan fitur yang sebenarnya belum siap digunakan secara umum.
Tim hukumnya berpendapat bahwa Tesla sudah mengeklaim fitur FSD aman banget sejak 2019. Padahal, fitur seharga 1,5 juta rupiah per bulan ini ternyata belum mampu menangani jalur keluar tol, yang jelas sangat berisiko bagi nyawa manusia.
Salah satu poin panasnya adalah keputusan Musk membuang sensor LiDAR dan hanya mengandalkan kamera murah. Padahal para insinyur Tesla sudah merekomendasikan LiDAR karena kemampuan melihatnya yang melampaui mata manusia, namun Musk menganggapnya terlalu mahal.
Dikutip dari 404media, Tesla memang lagi dikepung masalah hukum besar, termasuk larangan penggunaan istilah "Full Self-Driving" di California. Bahkan, Agustus lalu mereka diperintahkan membayar 3,7 triliun rupiah setelah kecelakaan fatal yang melibatkan fitur Autopilot.
Berbeda dengan Tesla, pesaing seperti Waymo sangat bergantung pada LiDAR untuk memetakan lingkungan secara 3D. Gugatan ini mengklaim bahwa memilih kamera video murah ketimbang LiDAR adalah sebuah keputusan yang sembrono dan membahayakan keselamatan pengguna.
Dilaporkan oleh 404media, Waymo pun sempat mengalami kejadian aneh, mulai dari pintu yang terbuka sendiri hingga mobil yang menerobos pengepungan polisi. Drama sosial ini menunjukkan bahwa teknologi swakemudi masih sering menciptakan situasi yang nggak terduga.
Masalahnya, pengemudian otomatis sepenuhnya memang tantangan teknologi yang super rumit bagi siapa pun. Bahkan sistem canggih berbasis LiDAR sekalipun masih sering mengalami kegagalan fatal dalam pengujian di dunia nyata, menjadikannya mimpi buruk bagi tim pengembang.
Bagi Saint Amour, kejadian mengerikan di Houston tersebut benar-benar menghancurkan kepercayaannya pada Tesla. Rekaman dashcam diduga membuktikan truknya gagal berbelok ke kanan, dan malah memilih melaju lurus ke arah tepi jurang yang sangat dalam.
Gugatan tersebut menuduh bahwa intervensi langsung dari Musk pada desain kendaraan telah menjadi risiko keselamatan sejak lama. Memasarkan produk berdasarkan kemampuan yang belum dimiliki dianggap sebagai penyebab langsung dari kecelakaan yang dialami oleh Saint Amour.
Dilansir oleh 404media, sejarah pilihan desain Musk yang berisiko kini sedang diperiksa ketat di pengadilan federal San Francisco. Tuntutan 15 miliar rupiah tersebut mencakup biaya pengobatan serta trauma berat akibat peristiwa kelalaian yang luar biasa itu.
Sistem Autopilot Tesla sendiri sudah sering dikaitkan dengan berbagai kecelakaan, termasuk menabrak mobil polisi yang sedang parkir. Kasus-kasus ini menunjukkan adanya masalah yang sifatnya mendalam pada cara AI mereka mendeteksi objek diam di jalanan.
Sementara Waymo sampai harus membayar kurir untuk menutup pintu mobil yang terbuka, Tesla justru menghadapi tuntutan hukum masif. Perlombaan menuju otomatisasi ini memang keren, tapi biaya nyawa manusia jelas nggak bisa diabaikan begitu saja.
Bencana Full Self-Driving di Texas ini menjadi bukti kalau kamera saja mungkin nggak cukup untuk menjaga keselamatan di jembatan layang. Bagaimana menurut kalian, apakah kalian berani mempercayakan nyawa pada sistem yang hanya mengandalkan kamera? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung