Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Jensen Huang Terpancing Ejekan Gamer Soal DLSS 5

Toar Rotulung • 2026-03-19 19:00:26

Ilustrasi Jensen Huang di dalam Ruangan Bernuansa China
Ilustrasi Jensen Huang di dalam Ruangan Bernuansa China

JagoSatu.com - Drama DLSS 5 makin panas setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, akhirnya angkat bicara. Bos berjaket kulit legendaris ini menanggapi kritik gamer soal karakter game yang malah kelihatan kayak editan AI yang gagal.

Jensen Huang secara terang-terangan menyebut komunitas gamer "salah total" dalam sesi tanya jawab GTC 2026. Bilang konsumen salah secara langsung adalah langkah yang nekat banget, bahkan buat sosok sekaliber Jensen.

Kritik pedas ini bermula dari game Resident Evil Requiem. Banyak yang protes karena Leon Kennedy dan Grace Ashcroft jadi terlihat seperti influencer Instagram hasil editan, bukan lagi penyintas yang terlihat tangguh.

Dilansir oleh Tom's Hardware, Jensen Huang berdalih bahwa DLSS 5 bukan sekadar filter biasa. Teknologi ini adalah perpaduan antara AI generatif dengan geometri game yang sudah ada untuk menciptakan visual masa depan.

Jensen Huang menegaskan bahwa kendali kreatif tetap ada di tangan developer game. Ia mengklaim teknologi ini cuma menambah kemampuan generatif pada aset yang sudah ada, bukannya mengganti semua gaya seni asli.

Jensen Huang menjelaskan bahwa fitur ini bekerja pada tingkat geometri, bukan sekadar proses tambahan setelah frame jadi. Itulah alasan Nvidia mulai memperkenalkan istilah "neural rendering" untuk menggantikan konsep rendering tradisional.

Beberapa pengguna merasa Nvidia memilih cara yang salah saat memamerkan teknologi ini. Kesan pertama yang terlihat seperti "AI asal-asalan" membuat banyak orang sulit diyakinkan, meskipun pakai kartu grafis paling kencang sekalipun.

Sayangnya, banyak gamer yang membandingkan momen ini dengan blunder masa lalu vendor lain. Ada kesan Nvidia cuma memaksakan tren AI demi keuntungan semata, bukannya benar-benar memperbaiki pengalaman bermain game.

Dikutip dari Tom's Hardware, Nvidia menjanjikan demo yang lebih matang sebelum peluncuran resminya musim gugur nanti. Kita mungkin akan melihat hasil yang lebih halus dan menghargai arahan seni asli dari pembuat game.

Komunitas juga kesal karena teknologi ini lagi-lagi menjadi fitur eksklusif yang memaksa pengguna masuk ke ekosistem tertentu. Banyak yang berpendapat vendor seharusnya bekerja sama membuat standar terbuka daripada menganaktirikan sebagian gamer.

Dikutip dari Tom's Hardware, Jensen Huang sangat yakin bahwa masa depan industri adalah "neural rendering". Ia mengklaim developer punya kendali penuh, meskipun banyak yang ragu mereka punya waktu untuk memperbaiki AI tersebut.

Ada perdebatan panas soal apakah inovasi ini sudah kelewat batas. Inovasi memang penting, tapi rasanya tidak benar kalau algoritma malah menghilangkan jiwa dan sentuhan tangan dari seni sebuah game yang ikonik.

Ketegangan antara teknologi generatif dan rendering tradisional ini makin terasa nyata bagi para gamer. Jika AI tidak bisa meniru visi seniman dengan sempurna, mata kita pasti akan merasa ada yang janggal.

Nvidia sepertinya harus melakukan upaya ekstra untuk memenangkan kembali kepercayaan para penggemarnya. Memperbaiki reputasi brand jauh lebih sulit daripada sekadar melatih jaringan saraf AI, apalagi setelah menyalahkan basis penggunanya sendiri.

Akhirnya, perang antara "Neural Rendering" dan nilai seni asli ini akan segera kita saksikan hasilnya. Menurut kalian sendiri, apakah penggunaan AI generatif ini memang kemajuan atau justru merusak estetika game? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung