JagoSatu.com - Teknologi 3D printing sekarang sudah makin canggih. Penggemar teknologi, Alisher Khojayev, baru saja pamer prototipe rudal berpemandu rakitan seharga $96 saja. Kita benar-benar masuk ke era di mana alat pertahanan bisa dibuat dengan budget seadanya.
Hanya seharga keyboard mekanik yang oke, Alisher sukses merakit rudal canggih dengan fitur sayap yang bisa bergerak. Sebagian besar strukturnya dicetak 3D, sedangkan otaknya cuma pakai mikroprosesor murah. Ini benar-benar level DIY yang beda banget.
Dilansir oleh Tom's Hardware, sistem ini menggunakan jaringan Wi-Fi untuk mengirim data ke komputer secara real-time. Komputer tersebut bertugas mengolah data arah terbang agar rudal sampai ke target. Pakai Wi-Fi rumah buat kendaliin rudal itu menakjubkan.
Kalau bongkar jeroannya, ada mikroprosesor ESP32 yang lengkap dengan GPS, barometer, dan kompas. Rudal ini juga pakai sensor MPU6050 buat hitung kecepatan saat terbang. ESP32 ini ibarat lem serbaguna yang ada di mana-mana dalam dunia teknologi.
Dilansir oleh Tom's Hardware, Khojayev bahkan membagikan skema rudal ini secara gratis agar bisa dipelajari. Konsep "MANPADS open-source" di GitHub ini beneran bikin geleng-geleng kepala karena mendemokrasikan rekayasa yang sangat kompleks bagi siapa saja.
Dikutip dari Tom's Hardware, program rudal militer resmi biasanya memakan biaya hingga setengah juta dolar per peluncuran. Meski versi Alisher belum teruji ketahanannya, rasio performa dibanding harganya secara teknis sangat luar biasa untuk proyek rumahan.
Sebagai perbandingan, satu rudal Stinger harganya bisa mencapai $480.000. Artinya, versi DIY ini 5.000 kali lebih murah dibanding standar militer. Rasanya anggaran belanja senjata terlihat sangat overpriced kalau seseorang di gudang bisa bikin versi murahnya.
Proyek ini cuma pakai komponen toko bangunan yang disatukan dengan kreatif. Sirip sayapnya bisa bergerak otomatis buat arahin posisi roket pas lagi di udara. Intinya, ini adalah versi roket sekolah menengah tapi dengan risiko yang jauh lebih tinggi.
Sekarang, siapa pun yang punya printer 3D di rumah bisa memproduksi teknologi yang dulu cuma dimiliki pemerintah. Perubahan cara manufaktur ini benar-benar mengubah permainan bagi para penghobi. Jalur dari garasi ke industri pertahanan terasa makin pendek.
Inovasi di medan perang belakangan ini membuktikan bahwa kondisi kepepet biasanya jadi kunci inovasi. Penggunaan printer 3D buat bikin komponen senjata jadi tren yang mulai bisa ditebak. Perang modern sekarang terlihat seperti kompetisi cetak 3D raksasa.
Sistemnya pakai sakelar ganda buat pastiin koneksi ke roket tetap stabil agar sudut terbang bisa diperbarui langsung. Ini bikin sayap rudal bisa menyesuaikan posisi secara real-time. Penyesuaian otomatis dengan budget satu jutaan adalah sebuah kemenangan teknik.
Dilansir oleh Tom's Hardware, mereka tetap tidak menyarankan siapa pun buat bikin sistem senjata sendiri di rumah. Terlepas dari sisi estetik dan teknisnya, proyek ini adalah bukti kekuatan elektronik modern. Anggap saja ini peringatan keras buat kita.
Semua bagian utama rudal ini dicetak 3D supaya ringan dan makin gampang buat dimodif sendiri. Kalau ada bagian yang rusak, "pabriknya" cuma sejauh printer di ruang hobi. Proses revisi desainnya mungkin bisa lebih cepat daripada nunggu kurir makanan.
Video demonya memperlihatkan gimana data telemetri mengalir lancar ke PC pengolah data lewat Wi-Fi. Ini gambaran menarik soal seberapa jauh sensor murah sudah berkembang dalam hal presisi. Kita hidup di masa depan yang keren tapi sedikit menyeramkan.
Alisher membuktikan bahwa kombinasi printer 3D dan mikrokontroler murah sanggup mengubah dunia. Kesenjangan antara teknologi hobi dan teknologi tinggi militer kini semakin menipis. Kalau teknologinya semurah ini, apakah kalian bakal mempercayai keamanan rudal hasil cetakan 3D? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung