JagoSatu.com - Mulai September ini, Google bakal merombak total aturan main sideloading di Android. Ada sistem verifikasi baru buat para developer yang ingin aplikasinya bisa diinstal di luar Play Store secara resmi.
Bisa dibilang ini ongkos buat tetap bebas. Developer sekarang wajib bayar $25 dan mengirim data identitas ke Google. Meski tujuannya keamanan, langkah ini dirasa cukup mengganggu bagi para pengembang aplikasi independen.
Dilansir oleh Ars Technica, jurus Google ini bertujuan membasmi virus dan scam yang makin nekat. Google mengklaim aplikasi yang tidak terverifikasi bakal sangat sulit diinstal kecuali pengguna melakukan langkah-langkah yang rumit.
Biar tetap bisa sideloading, kalian harus masuk ke Opsi Pengembang dan mencari menu "Izinkan Paket yang Tidak Terverifikasi". Prosesnya tidak instan karena butuh restart, PIN, hingga jeda waktu yang tidak bisa dinego.
Sideloading bukan lagi jadi solusi cepat, melainkan peristiwa yang harus direncanakan karena ada penundaan 24 jam. Tentu ini sungguh merepotkan bagi kita yang terbiasa gerak cepat saat ingin mencoba aplikasi baru.
Menurut Presiden Google Sameer Samat, penundaan 24 jam itu sengaja dibuat untuk menghentikan social engineering atau tipu-tipu halus. Jeda waktu ini dipercaya bakal menyulitkan penyerang untuk melanjutkan aksi penipuan mereka kepada pengguna.
Menariknya, Indonesia masuk dalam daftar negara pertama yang merasakan aturan ini bersama Brasil, Singapura, dan Thailand. Wilayah-wilayah ini dipilih karena dianggap memiliki tingkat penipuan dan peniruan identitas yang cukup tinggi.
Samat menekankan tanggung jawab besar Google terhadap 3 miliar perangkat Android. Dikutip dari Ars Technica, bagi banyak orang di dunia, smartphone adalah satu-satunya komputer yang mereka miliki untuk beraktivitas sehari-hari.
Setelah menunggu seharian, kalian bisa memilih opsi "Izinkan sementara" selama tujuh hari atau "Izinkan bebas permanen". Beruntung opsi permanen masih ada, jadi kita tidak perlu berurusan dengan verifikasi ini berulang kali.
Google menegaskan bahwa ini murni soal verifikasi identitas, bukan untuk membatasi jenis aplikasi. Jika developer terverifikasi nekat menyebarkan malware, mereka bakal kehilangan status verifikasinya secara total dan permanen.
Google mendefinisikan malware sebagai sesuatu yang merugikan pengguna tanpa sengaja. Kerennya, rootkit yang memang sengaja diunduh atau aplikasi klien YouTube alternatif tidak akan dipermasalahkan selama tidak melanggar definisi tersebut.
Dilansir oleh Ars Technica, pakar privasi justru khawatir data identitas developer ini rawan disalahgunakan. Namun, Google mengklaim mereka bakal menolak perintah pengadilan yang tidak tepat dan tidak membuat daftar permanen.
Ada juga masalah biaya $25 yang dianggap memberatkan developer di wilayah yang sedang kena blokir. Google menjawab diplomatis bahwa prosesnya bervariasi tiap negara dan tidak berniat memblokir wilayah tertentu secara sengaja.
Sistem verifikasi ini ternyata sudah ditanamkan ke dalam Android 16.1 sejak akhir tahun lalu. Ke depannya, verifikator dan alur lanjutan ini bakal tersedia di semua perangkat Android yang masih mendapatkan dukungan.
Sideloading tidak mati, tapi sekarang jadi lebih birokratis dengan waktu tunggu seharian. Memang bisa mencegah penipuan, tapi apakah kalian setuju dengan cara Google yang makin memperketat kontrol ini? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung