JagoSatu.com - Meta seolah-olah ingin mencabut kabel tapi langsung dicolok kembali saat tahu orang-orang sedang memperhatikan. Perusahaan ini kembali melakukan trik "nge-prank" dengan mengumumkan bahwa versi VR Horizon Worlds akan tetap ada sampai waktu yang belum ditentukan.
Jangan harap ada konten inovatif, karena CTO Meta Andrew Bosworth secara eksplisit memperingatkan kalau nggak akan ada gim baru. Ia mengonfirmasi layanannya tetap berjalan di VR cuma untuk mendukung gim lama dan komunitas yang masih aktif saja.
Klaim Bosworth bahwa VR belum mati terdengar sangat berani. Padahal, faktanya Meta baru saja memberhentikan sekitar 1.000 karyawan dan menutup tiga studio VR mereka. Menurutnya, berita soal "Horizon sudah mati" itu hanyalah sebuah misinformasi.
Perubahan mendadak ini terjadi cuma beberapa hari setelah Meta bilang akses VR bakal berakhir di pertengahan Juni, sebagaimana dilansir oleh Engadget. Manuver ini menjadi tanda kalau Meta mulai beralih fokus demi mengejar tren "superintelijen" AI.
Meta kini memandang metaverse sebagai "konsep yang sangat lebar". Bosworth menggambarkan momen saat orang di meja makan asyik menatap ponsel sebagai bagian dari pengalaman metaverse. Padahal, kalau begitu logikanya, kita sudah berada di sana sejak lama.
Meskipun divisi Reality Labs kena pangkas, Meta kabarnya tetap mengerjakan dua generasi headset VR terbaru. Mereka mencoba mengubah citra metaverse agar bukan cuma soal memakai headset yang besar, tapi juga mencakup penggunaan perangkat seluler biasa.
Dikutip dari Engadget, strategi mendefinisikan ulang metaverse dengan memasukkan "ponsel" terasa seperti memindahkan tiang gawang setelah gagal mencetak gol. Versi VR kini hanya menjadi opsi dukungan lama untuk komunitas kecil yang tersisa di Horizon Worlds.
Sayangnya, platform ini memang nggak pernah punya hype yang luas bahkan di kalangan pengguna VR paling fanatik sekalipun. Masalah konten yang minim membuat platform ini sulit berkembang meskipun penggunanya sudah memiliki perangkat keras yang mumpuni.
Mark Zuckerberg punya kendali penuh atas Meta, sehingga dia bisa terus membakar uang demi mimpi digitalnya. Para kritikus berpendapat, di dunia yang normal, kerugian miliaran dolar seharusnya sudah membuat posisi CEO tersebut diganti sejak lama.
Meta mencoba menenangkan para penggemar dengan bilang mereka masih jor-joran investasi di sisi hardware, seperti dikutip dari Engadget. Ini menunjukkan kalau pengembangan headset tetap jadi prioritas, meskipun pengembangan perangkat lunaknya sendiri seolah sedang jalan di tempat.
Analogi "persegi panjang bercahaya" dari Bosworth sebenarnya cara puitis untuk menyindir kecanduan media sosial. Menurut Meta, jika kalian sedang asyik "scrolling" layar ponsel setiap hari, sebenarnya kalian sudah secara tidak sadar berpindah ke dalam ruang digital.
Meskipun ada janji bertahan, masa depan visi orisinal VR ini sepertinya akan segera berakhir. Tanpa adanya gim baru dan jumlah pengguna yang semakin sedikit, versi VR kemungkinan besar hanya akan menjadi "kota hantu" digital saja.
Langkah Bosworth memberikan pembaruan di Instagram jelas merupakan bentuk pengendalian kerusakan demi investor, seperti dilansir oleh Engadget. Sangat sulit menjual headset mahal jika aplikasi sosial utamanya saja dirumorkan akan segera dihentikan pengembangannya oleh perusahaan.
Sekarang AI sudah jadi "anak emas" baru, sementara metaverse pelan-pelan menjadi anak tiri yang mulai dilupakan anggarannya. Meta lebih sibuk melatih model bahasa besar mereka daripada membuatkan konten baru untuk para pengguna setianya di Horizon.
Visi dunia yang mengutamakan VR terasa semakin jauh akibat koreksi arah yang dilakukan Meta pada tahun 2026 ini. Menurut kalian sendiri, apakah konsep metaverse ala Meta ini masih layak buat ditunggu masa depannya? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung