Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Inovasi IoT: Alat Pemantau Kualitas Udara dalam Ruangan Hadir di Universitas Klabat

Jasinta Bolang • 2025-09-20 08:49:04

Photo
Photo

Jagosatu.com - Lingkungan sehat adalah salah satu faktor penting bagi kehidupan manusia. Udara yang kita hirup setiap hari ternyata bisa mengandung zat berbahaya yang tidak terlihat.

Menurut World Health Organization (WHO), zat berbahaya bisa berasal dari bangunan, material konstruksi, hingga proses pembakaran yang ada di sekitar kita. Jika berlebihan, zat ini bisa memicu masalah kesehatan serius.

Melihat hal itu, tim peneliti dari Universitas Klabat menghadirkan sebuah alat pintar berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas udara dalam ruangan.

Alat ini menggunakan sensor MQ135 yang mampu mendeteksi gas berbahaya seperti karbon monoksida, karbon dioksida, amonia, dan benzena.

Sensor tersebut dihubungkan ke mikrokontroler Wemos board yang dilengkapi modul Wi-Fi, sehingga data dapat langsung dikirim ke internet untuk dianalisis.

Menurut peneliti, data hasil deteksi sensor akan tampil secara real-time di platform ThingSpeak, sebuah layanan cloud IoT yang menyajikan data dalam bentuk grafik.

Selain itu, sistem ini juga terhubung dengan aplikasi Blynk di smartphone. Aplikasi tersebut akan mengirimkan notifikasi kepada pengguna jika kualitas udara berada pada level berbahaya.

Dengan begitu, pengguna bisa lebih cepat waspada ketika kondisi udara di ruangan mereka sudah tidak sehat lagi.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa alat ini mampu mendeteksi kualitas udara dan membaginya ke dalam tiga level: normal, medium polluted, dan highly polluted.

Dalam pengujian selama 20 menit, sensor menunjukkan nilai rata-rata 489,3, yang masuk kategori medium polluted. Artinya, udara dalam ruangan saat itu terdeteksi sudah cukup tercemar.

Baca Juga: Notion Luncurkan AI Pengganti Karyawan? Ini Bukti Nyatanya!

Notifikasi otomatis kemudian dikirim ke smartphone pengguna melalui aplikasi Blynk sebagai peringatan.

Menurut Jacquline Waworundeng, sistem ini berpotensi digunakan di berbagai tempat seperti rumah, sekolah, kantor, rumah sakit, hingga hotel.

Keunggulan lain dari alat ini adalah monitoring yang bisa dilakukan dari mana saja. Asalkan terkoneksi internet, data kualitas udara dapat dipantau melalui smartphone maupun komputer.

Hal ini sangat membantu masyarakat yang ingin menjaga kesehatan lingkungan dalam ruangan tanpa harus selalu mengecek secara manual.

Sistem ini juga menjadi salah satu bentuk nyata penerapan teknologi IoT (Internet of Things) di bidang kesehatan lingkungan.

Peneliti menegaskan bahwa kesadaran terhadap kualitas udara dalam ruangan masih rendah, padahal risiko penyakit dari udara kotor sangat tinggi.

Karena itu, inovasi ini tidak hanya sekadar teknologi, tetapi juga bagian dari edukasi untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Menurut para ahli, polusi udara dalam ruangan bisa memicu penyakit pernapasan, alergi, hingga memperburuk kondisi penderita asma.

Dengan adanya sistem monitoring otomatis, diharapkan masyarakat bisa lebih mudah mengambil tindakan seperti membuka ventilasi, menggunakan filter udara, atau mengurangi aktivitas yang menghasilkan asap.

Saran pengembangan alat ini adalah menambahkan sensor suhu, kelembaban, dan debu agar hasil pemantauan lebih lengkap.

Jika dikembangkan lebih lanjut, data monitoring juga bisa dianalisis secara harian, bulanan, hingga tahunan untuk memberikan rekomendasi kesehatan udara di suatu tempat.

Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi sederhana bisa membawa dampak besar bagi kesehatan masyarakat. (RA)

Editor : Jasinta Bolang
#IoT #Sensor MQ135 #Blynk App #ThingSpeak #Kualitas Udara