Jagosatu.com - Lingkungan sehat jadi salah satu kunci penting untuk menjaga tubuh tetap bugar. Namun, kondisi udara, suhu, dan kelembaban sering kali berubah tanpa kita sadari.
Menurut United Nations Economic Commission for Europe (UNECE), monitoring lingkungan adalah cara penting untuk melihat kondisi dan tren lingkungan, serta mendukung pembuatan kebijakan publik dari hal ini, peneliti Universitas Klabat (Unklab) mengembangkan sistem pemantauan lingkungan berbasis Internet of Things (IoT).
Alat ini terdiri dari sensor suhu, kelembaban, dan kualitas udara, yang dikendalikan oleh mikrokontroler dengan dukungan energi listrik dan panel surya.
Hasil pengukuran langsung dikirim ke platform IoT Blynk dan ThingSpeak, sehingga data bisa dilihat secara real-time dalam bentuk grafik maupun notifikasi.
Dalam uji coba pada Mei 2023, dua prototipe alat ditempatkan di lokasi berbeda di lingkungan Unklab, yakni pintu masuk utama dan sekitar Pioneer Chapel
Hasil pengukuran menunjukkan rata-rata suhu di kedua lokasi hampir sama, yakni 28,39°C dan 28,44°C. Nilai ini dianggap normal karena sesuai suhu optimal tubuh
Namun, nilai kelembaban jauh lebih tinggi dari standar. Rata-rata mencapai 90,18%RH dan 85,28%RH, padahal idealnya hanya 40–60%RH
Kelembaban tinggi ini berpotensi memengaruhi kesehatan, terutama bagi penderita penyakit pernapasan atau mereka yang rentan terhadap infeksi
Dari sisi kualitas udara, hasilnya cukup berbeda. Lokasi dekat jalan utama mencatat nilai 59,62 AQI (moderate), sedangkan area Pioneer Chapel hanya 3,7 AQI (good).
Baca Juga: Inovasi IoT: Alat Pemantau Kualitas Udara dalam Ruangan Hadir di Universitas Klabat
Menurut National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS), kualitas udara di atas 100 AQI bisa berbahaya bagi kesehatan Itu artinya, meski kondisi udara di Unklab masih dalam batas aman, lokasi dekat jalan raya perlu lebih diperhatikan karena rawan terpapar polusi kendaraan.
Sistem IoT ini bekerja tidak hanya sebagai pengumpul data, tapi juga pengirim peringatan otomatis. Jika suhu lebih dari 30°C, kelembaban lebih dari 84%, atau kualitas udara di atas 101 AQI, maka pengguna langsung mendapat notifikasi di smartphone.
Fitur ini penting untuk memberi tanda bahaya sejak dini, agar warga kampus bisa segera mengambil tindakan pencegahan.
Menurut peneliti, penelitian ini juga menjadi bukti dukungan terhadap konsep “Green Campus” yang selama ini diusung Unklab.
Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun suhu dan udara masih dalam kategori baik, kelembaban tinggi menjadi tantangan yang perlu diperhatikan lebih serius.
Peneliti juga memberi saran agar pihak kampus menambah lebih banyak pohon dan merawat lingkungan sekitar untuk mengurangi polusi udara.
Selain itu, penelitian berikutnya disarankan untuk dilakukan dalam periode lebih panjang agar tren data dapat dianalisis lebih mendalam, bahkan bisa dikombinasikan dengan AI dan machine learning.
Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi sederhana berbasis IoT bisa memberi manfaat besar, baik untuk kampus maupun masyarakat sekitar.
Dengan data yang akurat, warga Unklab dapat lebih peduli menjaga lingkungan sehat, sehingga tagline “Green Campus” benar-benar tercermin dari bukti nyata. (ra)
Editor : Jasinta Bolang