JagoSatu.com - Platform X milik Elon Musk (dulu Twitter) kena masalah serius. Mereka dituduh menciptakan traffic atau lalu lintas palsu ke situs lain, diduga sebagai cara curang untuk mengganggu para kompetitornya.
Modusnya, aplikasi X di ponsel melakukan "pre-loading" tautan, dengan alasan biar loading lebih cepat. Tapi, 'mempercepat' ini ternyata cuma kedok buat aktivitas aneh di belakang layar yang tercatat sebagai kunjungan asli.
Yang paling kena imbasnya jelas para kompetitor, terutama Bluesky dan Substack, seperti dilansir oleh WebProNews. Keduanya mendeteksi lonjakan traffic misterius yang langsung dicurigai oleh sistem analitik mereka.
Ini bukan sekadar pre-loading biasa. Para ahli menduga X memanipulasi API Visibilitas menggunakan tampilan web. Praktik ini mirip kayak penipuan data analitik yang jadi masalah serius di dunia digital.
Taktik ini jelas bikin data analitik jadi kacau. Pemilik situs web jadi salah mengira tentang minat audiens mereka, padahal semua itu cuma interaksi palsu yang boros sumber daya server.
Ternyata, ini bukan pertama kalinya X berulah. Dilaporkan oleh WebProNews, tahun 2023 lalu mereka juga sengaja memperlambat akses ke situs pesaing seperti Threads dan The New York Times. Polanya kelihatan jelas.
Bagi Bluesky, platform pesaing yang terdesentralisasi, lonjakan traffic buatan ini bikin mereka jadi kesulitan melacak pertumbuhan pengguna aslinya di tengah data yang sudah tercemar.
Sementara itu, para penulis di Substack sangat bergantung pada data yang akurat. Dikutip oleh WebProNews, traffic palsu dari X bisa menyesatkan para kreator soal efektivitas promosi mereka di platform tersebut.
Warganet pun langsung ramai menuduh X memakai taktik licik. Seorang pengguna menyebut praktik ini "menciptakan ilusi keterlibatan." Tindakan kayak gini jelas merusak kepercayaan dan reputasi platform.
Selain data yang ngaco, ada masalah lain: biaya server. Situs web kecil bisa-bisa kaget lihat tagihan hosting membengkak gara-gara 'pengunjung hantu' yang dikirim oleh X ini.
Kontroversi ini bisa bikin X kena semprit regulator, terutama di Uni Eropa. Memanipulasi data tanpa tujuan yang jelas berpotensi melanggar aturan ketat seperti GDPR.
Dilaporkan oleh WebProNews, seorang pakar bahkan menyebut X "tampak melanggar standar" web yang ada. Jika terbukti, para pengembang browser besar semestinya bisa ikut turun tangan mengatasi masalah ini.
Kasus ini nunjukkin celah besar di sistem analitik web. Alat populer seperti Google Analytics pun bisa terkecoh, menganggap pre-loading sebagai kunjungan nyata. Pemilik situs jadi repot sendiri.
Akibatnya, para pengembang sekarang harus keluar biaya lebih buat sistem analitik canggih, hanya untuk bisa membedakan mana pengunjung asli dan mana 'pengunjung hantu' kiriman dari X.
Pada akhirnya, taktik ini menimbulkan pertanyaan besar soal etika bersaing di dunia digital. Menurut kalian, ini strategi bisnis yang 'cerdas' atau sudah kelewat batas? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung