JAGOSATU.COM - Sebuah area sanggar seluas 1,5 hektare mampu menyimpan ribuan koleksi benda antik, termasuk bahan kayu rumah adat Osing Banyuwangi.
Usaha mengumpulkan benda klasik kuno itu dimulai tahun 2010. Kala itu, kawasan yang berada di Balai Desa Gumirih tersebut masih milik orang tuanya.
Saya hanya meneruskan warisan orang tua dan leluhur saya dulu,’ ujar lelaki yang juga kepala Desa Gumirih tersebut.
Sejak saat itulah, Murai mulai merintis pengumpulan benda-benda kuno klasik di Banyuwangi. Seluruh benda yang sudah sulit dan jarang ditemukan mulai dikoleksi.
Contohnya, lesung atau lumpang yang sudah banyak ditinggalkan.
Barang-barang antik itu didapat dari pelosok desa di Banyuwangi. Setelah terkumpul, benda tersebut mampu menarik minat masyarakat. Siapa pun yang masuk gratis, tidak dipungut biaya," katanya.
Selain mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, Griya Alit Blambangan juga kerap jadi venue sejumlah kegiatan.
Salah satunya, mendapat kepercayaan dari Pemkab Banyuwangi untuk dijadikan tempat pergelaran Banyuwangi Youth Creative Network (BYCN).
Sebuah event untuk menggali potensi dan memperkuat konsolidasi antara seni dan ekonomi. Tak disangka, destinasi itu mendapat apresiasi dari Bupati Ipuk Fiestiandani.
Dari situ, Murai merasa tertantang untuk terus memiliki koleksi benda-benda kuno, antik, dan klasik.
Intinya, kami ingin melestarikan warisan leluhur dan memberikan edukasi kepada generasi muda kekinian, tandasnya.
Baca Juga: Kontes Koi di Buleleng, 510 Peserta Berlomba Adu Gaya dari Bali dan Jawa.
Destinasi itu juga menjadi wahana edukasi. Tak sedikit mahasiswa yang mengambil penelitian di tempat tersebut.
Kami terbuka untuk siapa saja. Kalau mau belajar benda-benda kuno, pelajar hingga masyarakat umum boleh datang ke tempat ini, ucap Murai.
Di balik misi mulianya, Murai Ahmad juga mendapat berkah tersendiri. Benda-benda koleksinya ternyata banyak diminati. Bahkan pernah diekspor hingga ke Skotlandia.(jpg)
Editor : Aryanti Sasamu