JAGOSATU.COM -Harga cabai rawit (Rica) di Sulawesi Utara (Sulut) masih kalah jauh dengan harga di Kabupaten Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.
Jagat media sosial X dihebohkan dengan informasi harga cabai rawit merah tembus Rp 450 ribu per kilogram (kg) di Kota Pelabuhan itu.
Tentu saja angka itu membuat netizen heboh. Sebab, jauh lebih mahal dari daging sapi per kilogram. Daging sapi sendiri harganya Bermain di kisaran Rp120 ribu/kg.
Laporan soal harga cabai rawit di Baubau dilaporkan oleh Badan Pangan Nasional.
Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi membantah bahwa harga cabai rawit merah saat ini sampai tembus Rp 450.000 per kilogram (kg). Berdasarkan catatannya harga cabai rawit secara rata-rata nasional Rp 82.840 per kilogram (kg).
Baca Juga: Istilah Pick Me Pencarian Tertinggi di Google, Masyarakat Indonesia Penasaran, Apa Artinya?
Kemudian, secara rata-rata harga cabai rawit merah di Sulawesi Tenggara Rp 101.660 per kg. Lalu, di Kabupaten Baubau Rp 130.000 per kg, naik tajam dari harga tiga hari lalu di angka Rp 75.000 per kg.
"Jadi beritanya tidak benar," kata Arief, Senin (18/12).
Harga tertinggi cabai rawit merah Rp 148.030 per kilogram (kg) di Kalimantan Utara. Sementara harga terendah ada di Papua Barat Rp 58.090 per kg. Untuk rata-rata harga di DKI Jakarta Rp 93.520 per kg, Jawa Barat Rp 85.240 per kg, Jawa Tengah Rp 77.010 per kg dan Jawa Timur Rp 77.110 per kg. Sedangkan di Sulut, harganya mulai bermain di angka Rp110-130/kg. Kadangkala bisa tembus Rp150 ribu/kg.
Arief mengakui memang terjadi kenaikan harga cabai rawit saat ini. Hal tersebut terjadi karena produksi komoditas itu mengalami penurunan, sehingga pasokan kurang.
"Pastinya pasokan berkurang di beberapa tempat seperti Jakarta. Di beberapa daerah seperti Nagekeo NTT, Sulawesi Selatan harganya malah lebih baik. Artinya, produksi cabai didekatkan dengan daerah konsumen akan lebih baik," terang Arief.
Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto mengatakan berdasarkan informasi dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Baubau tidak ditemui cabai Rp 450.000/kg.
"Sehubungan dengan pemberitaan tersebut kami telah melakukan pengecekan di pasar melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Baubau dan tidak ditemui adanya cabai dengan harga Rp 450.000/kg," kata Suhanto kepada detikcom.
Berdasarkan pantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag per tanggl 18 Desember 2023, mencatat harga cabai rawit merah di Kota Baubau sebesar Rp 130.000 per kg.
"Terhadap pemberitaan tersebut, sebetulnya juga telah diklarifikasi juga oleh Kadis bahwa tidak ada harga Rp 450.000 per kg harga cabai rawit merah di sana," jelasnya.
Harga cabai rawit merah secara rata-rata nasional dalam laman SP2KP Kemendag tercatat turun 4,87% menjadi Rp 93.200 per kg. Angka itu turun dari harga sebelumnya pada 15 Desember 2023, Rp 97.100 per kg.
Kemudian jenis cabai lainnya juga terpantau tinggi namun mengalami penurunan hari ini. Harga cabai merah keriting Rp 68.600 per kg, turun 5,77% menjadi Rp 72.800 per kg, cabai merah besar Rp 68.400, turun 4,87% menjadi Rp 71.900 per kg.
Temuan Pedagang
Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengatakan harga itu memang sempat terjadi, tetapi hanya sekali. Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri mengatakan saat ini harga cabai rawit merah di Kabupaten Baubau tak lagi Rp 450.000 per kg.
Menurutnya catatannya harga cabai rawit merah di daerah itu Rp 250 ribu per kg. "Benar sempat Rp 450.000 per kg, tetapi itu hanya sekali, habis itu turun lagi. Sekarang itu sekira Rp 250.000 per kg," ujar Mansuri.
Mansuri menjelaskan kasus harga cabai rawit yang tinggi itu karena saat pedagang ingin menutupi kerugiannya. Karena saat membeli pasokan pertama, barang yang datang malah rusak.
Kemudian karena sudah terlanjur dibayar dan tidak bisa dijual, pedagang pun merugi. Lalu ketika membeli barang kedua kalinya, harga cabainya jadi dinaikkan agar kerugian sebelumnya tertutupi.
"Jadi pedagang itu kan beli kan langsung bayar, baru datang barangnya. Kemudian ketika datang itu barangnya rusak, jadi nggak bisa dijual.
Ketika membeli yang kedua, pedagang jadi menjual dengan harga yang diakumulasikan dengan pembelian pertama, jadi harganya naik," ujarnya.(mpd)
Editor : Nur Fadilah