JAGOSATU,COM - Seluruh umat Islam merayakan 1 Muharam 1445 Hijriyah atau dikenal juga dengan Tahun Baru Islam. Di 2023, perayaan ini jatuh pada tanggal 19 Juli besok sesuai kalender Masehi.
Perayaan ini penting karena menjadi simbol identitas diri dari umat Islam. Namun yang tidak kalah penting adalah tahun baru Hijriyah menjadi patokan untuk menentukan hari-hari besar umat Islam.
Penetapan 1 Muharam sebagai tanggal pertama dari penanggalan Islam atau kalender hijriyah melalui proses yang panjang. Segalanya berawal dari keresahan umat Islam di zaman kekhalifahan.
Baca Juga: Serangan Balasan Rusia Kembali Mengguncang Odesa, Ukraina Pasca Insiden di Krimea
Kala itu, petinggi-petinggi dan masyarakat Islam kesulitan untuk menandai peristiwa penting, dan juga berkaitan dengan administrasi.
"Dikutip dari muhammadyah.or.id, kalender yang bersifat baku sangat penting untuk pencatatan dokumen, termasuk administrasi di pemerintahan, misalnya penetapan keputusan hukum, serta perjanjian dengan berbagai pihak terkait."
Memang pada saat itu, masyarakat Arab pra-Islam sudah menggunakan penanggalan, namun tidak mencantumkan tahun, melainkan hanya mencantumkan tanggal dan bulan saja. Tanpa adanya angka tahun, maka suatu peristiwa akan sulit ditandai secara tepat kapan waktu terjadinya.
Maka dari itu, khalifah Umar Bin Khattab kemudian memiliki gagasan untuk membuat kalender penanggalan Islam yang bisa menjadi pedoman resmi. Dilansir dari makalah berjudul Konsolidasi Metodologis Kalender Islam Internasional karya Muh. Rasyan Syarif (Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar) dan Naif (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan), sistem penanggalan baku diperlukan untuk pencatatan administrasi pemerintahannya yang memiliki kedaulatan.
Baca Juga: vivo Y27 Series Siap Meluncur di Indonesia, Dibekali Teknologi 44W FlashCharge
Umar kemudian mengumpulkan para ahli untuk melakukan reformasi penanggalan Islam, yaitu merubah pedoman penanggalan dari kalender Arab pra-Islam yang tidak mencantumkan tahun, menjadi kalender Islam yang didalamnya memuat tanggal, bulan, dan tahun.
Para ahli ini terdiri dari Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Zubair bin Awwam dan beberapa ahli lainnya. Mereka membentuk panitia kecil untuk menentukan patokan awal mula penanggalan kalender Islam.
Berbagai usulan kemudian muncul terkait peristiwa apa yang layak menjadi patokan awal penanggalan kalender Islam, mulai dari hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, pengangkatan Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah, peristiwa Isra' Mi'raj, wafatnya Rasulullah, hingga hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah.
Setelah melalui pertimbangan panjang dan ijma' ulama, akhirnya peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah yang merupakan usulan Ali bin Abi Thalib diputuskan untuk menjadi patokan permulaan kalender Islam.
"Pemilihan peristiwa tersebut memiliki alasan, diantaranya Allah memuliakan orang yang berhijrah, masyarakat Islam yang berdaulat baru terbentuk setelah hijrah Nabi Muhammad, serta umat Islam diharapkan selalu memiliki semangat berhijrah menuju kebaikan dan meninggalkan kesesatan.
Baca Juga: Keputusan Unik Aji Santoso Geser Posisi Alwi Slamat, Bek Kiri Persebaya Surabaya
Dikutip kembali dari muhammadyah.or.id, karena ditandai dengan peristiwa hijrah itulah nama kalender Islam dikenal dengan nama kalender hijriyah. Tindakan hijrah dari Makkah menuju Madinah dilakukan Nabi Muhammad dan umat Islam lain untuk memulai kehidupan baru yang lebih berdaulat, bermartabat, beretika, dan teratur.
Sebagai informasi, kalender Hijriyah didasarkan pada pergerakan bulan. Berbeda dengan kalender Masehi yang memiliki jumlah hari sebanyak 365, kalender Islam hanya memiliki sekitar 354 hari.
"Hal ini disebabkan oleh sinodis bulan, yaitu jangka waktu yang dibutuhkan bulan untuk mencapai satu fase bulan tertentu sebanyak dua kali secara berurutan. Maka dari itu, kalender Islam lebih pendek sekitar 11 hari atau selalu bergeser maju daripada kalender Masehi.(jpg)
Editor : Aryanti Sasamu