Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dampak Tragis Serangan Israel di Gaza, Anak-anak Terpaksa Diberi Obat Penenang

T
Penderitaan anak-anak di Gaza akibat serangan israel._X Sean Casey
Penderitaan anak-anak di Gaza akibat serangan israel._X Sean Casey

JAGOSATU.COM - Staff Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan kunjungan ke sebuah rumah sakit di Gaza yang merawat para korban dari serangan mematikan di sebuah kamp pengungsian.


Advertisement

Dalam kunjungannya, para staff mendengarkan kisah menyedihkan tentang keluarga yang tewas dan menyaksikan kondisi penuh penderitaan anak-anak.

Informasi yang dikumpulkan menunjukkan bahwa sekitar 100 orang telah dilarikan ke rumah sakit Al Aqsa untuk mendapatkan perawatan darurat, dengan sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.

Meskipun begitu, seluruh korban membutuhkan perawatan segera karena luka parah yang disebabkan oleh serangan Israel.

Advertisement

Dilansir dari media X yang dimiliki oleh Sean Casey, Koordinator Tim Medis Darurat WHO, pada Jumat (29/12), Casey menggambarkan upaya dokter yang memberikan pereda nyeri kepada Ahmed, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang terluka parah.

"Dia dirawat dengan obat penenang untuk meringankan penderitaannya saat dia meninggal," ujar Casey dalam videonya di X.

Ahmed mengalami luka serius saat bangunan di sekitar tempat penampungannya meledak.

Advertisement

"Dia sedang menyeberang jalan di depan tempat penampungan tempat keluarganya tinggal dan bangunan di sampingnya meledak," tambahnya.

Anak yang malang ini terkena pecahan peluru dan serpihan bangunan yang meledak, sehingga bagian otaknya terbuka, mirip dengan banyak kasus di Gaza sejak serangan Israel dilancarkan.

Sayangnya, tidak ada dokter yang memiliki kapasitas untuk menangani kasus neurologis yang kompleks.

Meskipun Rumah Sakit Al Aqsa memiliki persediaan medis dan bahan bakar untuk menjalankan generator, Casey menegaskan bahwa fasilitas tersebut menerima lebih banyak pasien daripada kapasitas tempat tidur dan staff yang dapat menanganinya.

Situasi ini membuat banyak pasien yang terluka tidak dapat bertahan menunggu perawatan.

"Kami melihat hampir hanya kasus trauma yang muncul, dan pada skala yang cukup sulit dipercaya.

Ini adalah pertumpahan darah seperti yang kami katakan sebelumnya, ini adalah pembantaian yang kejam," tutupnya. (jpg)

Advertisement

Artikel Terkait

Setelah Saling Serang, Israel dan Iran Sama-Sama Tunda Operasi Militer

Setelah Saling Serang, Israel dan Iran Sama-Sama Tunda Operasi Militer

AMERIKA Serikat (AS) sibuk di dua front pada hari-hari ini. Di dalam negeri, AS berkutat dengan persiapan penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Di Timur Tengah, AS sibuk mengupayakan agar eskalasi antara Israel dan Iran....

Iran dan Israel Saling Tembakkan Rudal, Harga Minyak Melonjak

Iran dan Israel Saling Tembakkan Rudal, Harga Minyak Melonjak

Konflik Israel dan Iran kembali meledak. Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah kota di Iran kemarin (8/6).  Serangan tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah Teheran menembakkan rudal dan roket ke wilayah...

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer