Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kecemasan Dampak AI di Dunia Kerja Menguat

P

Ilustrasi
Ilustrasi


Advertisement

LONDON – Kecemasan terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja kian terasa memasuki 2026 ini. Di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian global, pekerja lintas sektor kini menghadapi dua bayang-bayang sekaligus: otomatisasi yang menggeser peran manusia dan pengawasan berbasis algoritma.

Para pemimpin perusahaan teknologi memproyeksikan AI segera mampu menjangkau tugas insinyur perangkat lunak. Bahkan suatu saat mengambil alih fungsi manajerial. Namun, optimisme itu tak sepenuhnya dirasakan para pekerja di garis depan perubahan.

 

Advertisement

Survei Pew Research Center 2025 menunjukkan, 64 persen publik meyakini AI akan mengurangi jumlah pekerjaan dalam 20 tahun ke depan. Hanya 17 persen warga AS yang menilai AI akan berdampak positif. Angka-angka itu menegaskan jurang antara narasi kemajuan teknologi dan kegelisahan masyarakat pekerja.

Sejumlah ahli menilai, situasi itu menjadi momen strategis bagi konsolidasi buruh. "Gerakan kelas pekerja yang lebih luas untuk makin bermartabat menjadi mungkin," ungkap Sarita Gupta, wakil presiden program AS di Ford Foundation dan penulis The Future We Need, sebagaimana dikutip The Guardian, Jumat (20/2).

Lisa Kresge, peneliti senior di UC Berkeley Labor Center, menyampaikan bahwa pekerja berubah rendah menghadapi dilema ganda. "Mereka khawatir digantikan robot. Namun, di sisi lain, mereka juga khawatir dijadikan seperti robot," katanya.

Advertisement

 

 

Demikian isu AI bukan semata soal hilangnya pekerjaan, tetapi juga ancaman dehumanisasi kerja. Pengalaman pandemi Covid-19 memberikan pelajaran penting tentang pentingnya penguatan kolektif kala itu, kata Kresge, memicu lonjakan pengorganisasian buruh. "Itu bukan masa yang indah bagi banyak pekerja. Sebagian kebangkitan organisasi buruh saat itu merupakan respons atas banyaknya ketakutan," ujarnya.

Namun, tantangan struktural tetap membayangi. Gupta mengingatkan, selama empat dekade terakhir, produktivitas melonjak sementara upah stagnan. Tingkat keanggotaan serikat pun merosot ke titik terendah historis. Pada 2025, hanya 9,9 persen pekerja AS yang menjadi anggota serikat, angka terendah dalam hampir 40 tahun. (din/dri/jawa pos)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer