Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Timur Tengah Memanas, Trump Tunda Kunjungan ke Beijing

P

Photo
Photo


Advertisement

BEIJING - Akhir bulan ini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump rencananya akan berkunjung ke Tiongkok. Namun, melihat kondisi Timur Tengah yang masih panas akibat perang, ada kemungkinan kunjungan itu diundur. Dilansir dari CNBC, Trump sempat berharap Tiongkok dapat membantu terkait blokade Selat Hormuz.

Memang Tiongkok dan Iran memiliki hubungan baik. Permintaan Trump adalah Selat Hormuz bisa dibuka sebelum 31 Maret atau 2 April nanti. Ini adalah tanggal pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. "Dua minggu menuju pertemuan itu adalah waktu yang lama. Kami mungkin akan menunda," kata Trump Minggu (15/3).

 

Advertisement

Pada kesempatan berbeda, Trump menyebut Tiongkok telah memperoleh 90 persen minyak dari Selat Hormuz. Dia menyebut reaksi Beijing atas Hormuz hanya untuk melindungi kepentingan sendiri. Sebelumnya, Trump meminta Eropa dan Asia, termasuk Tiongkok, untuk membuka Selat Hormuz guna membuka peluang pasokan minyak dunia.

"Saya menuntut agar negara-negara ini datang dan melindungi wilayah mereka sendiri, karena itu adalah wilayah mereka," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan dari Florida ke Washington seperti dilansir dari South China Morning Post.

Di waktu yang sama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu dengan Menteri Keuangan Tiongkok He Lifeng di Paris, Prancis. Dua utusan itu tengah membahas rencana pertemuan dua pemimpin negara digdaya.

Advertisement

 

 

Beijing kemungkinan besar tidak akan mematuhi tuntutan Trump untuk mengirim kapal angkatan laut guna membantu membuka kembali Selat Hormuz. Sementara itu, Trump dinilai tidak serius membatalkan pertemuan dengan Tiongkok. Hal tersebut disebutkan oleh peneliti senior di Council on Foreign Relation Edward Fishman.

"Spekulasi yang dibuat Tiongkok lebih dari satu dekade lalu pada energi bersih seperti menjadi produsen panel surya, baterai, dan kendaraan listrik terbesar di dunia, jelas membuahkan hasil saat ini," kata Fishman.

Bahkan dia memprediksi Beijing berpotensi mendapatkan keuntungan lebih lanjut karena para pemimpin dunia mempercepat peralihan mereka ke sumber energi alternatif setelah konflik Iran. "Dan itu akan memberikan Tiongkok pengaruh yang sangat besar, karena merekalah yang memegang kunci semua teknologi tersebut," kata Fishman. (lyn/len/jawa pos)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer