Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Maskapai Global Naikkan Tarif dan Pangkas Kapasitas

P

Pesawat Boeing 787-8 Dreamliner milik United Airlines di Los Angeles International Airport, Amerika Serikat. CEO United Airlines Scott Kirby mengatakan, tarif tiket perlu naik sekitar 20 persen
Pesawat Boeing 787-8 Dreamliner milik United Airlines di Los Angeles International Airport, Amerika Serikat. CEO United Airlines Scott Kirby mengatakan, tarif tiket perlu naik sekitar 20 persen


Advertisement

NEW YORK – Lonjakan harga minyak global memaksa maskapai di berbagai negara menerapkan strategi mempertahankan kinerja. Perusahaan penerbangan global menaikkan tarif tiket sekaligus memangkas kapasitas. Langkah itu ditempuh untuk meredam lonjakan harga avtur yang kini menjadi tekanan terbesar bagi industri aviasi.

Tekanan tersebut muncul setelah konflik di Timur Tengah memicu kenaikan tajam harga energi. Sebelum perang, industri penerbangan global memproyeksikan laba mencapai USD 41 miliar pada 2026. Namun kenaikan harga bahan bakar yang hampir dua kali lipat kini mengancam proyeksi tersebut.

 

Advertisement

Sejumlah maskapai besar seperti United Airlines, Air New Zealand, dan Scandinavian Airlines telah mengumumkan pengurangan kapasitas penerbangan sekaligus kenaikan tarif. Sebagian maskapai lainnya memilih menerapkan tambahan biaya bahan bakar (fuel surcharge). "Maskapai menghadapi tantangan eksistensial," ujar Rigas Doganis, mantan pimpinan Olympic Airways dan eks direktur easyJet.

Menurut dia, industri penerbangan berada dalam dilema. Maskapai perlu menurunkan tarif untuk menjaga permintaan, tetapi biaya bahan bakar yang melonjak justru memaksa mereka menaikkan harga tiket. "Ini badai sempurna," katanya.

 

 

Jumlah Penumpang Cetak Rekor

Industri penerbangan sebenarnya tengah menikmati momentum positif. Tahun lalu, lalu lintas penumpang global mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, sekitar 9 persen di atas level sebelum pandemi.

Kenaikan permintaan perjalanan pascapandemi serta keterbatasan pasokan pesawat baru, akibat gangguan rantai pasok global, membatasi pertumbuhan kapasitas dan memberi maskapai ruang untuk menaikkan harga tiket.

 

Namun kenaikan harga bahan bakar kini menimbulkan tekanan baru. "Cara paling efektif menaikkan harga adalah dengan mengurangi kapasitas," ujar Andrew Lobbenberg, kepala riset transportasi Eropa di Barclays.

CEO United Airlines Scott Kirby mengatakan, tarif tiket perlu naik sekitar 20 persen untuk menutup lonjakan biaya bahan bakar. Sementara itu, Cathay Pacific telah dua kali menaikkan fuel surcharge dalam sebulan terakhir. Untuk penerbangan pulang-pergi rute Sydney-London, maskapai tersebut mengenakan tambahan biaya hingga USD 800. (bil/dio)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer