Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jerman Jadi Eksportir Terbesar Limbah Plastik Dunia Tahun Lalu

P
BANYAK SAMPAH: Sungai Tigris di Turki termasuk yang sering dicemari oleh limbah plastik kiriman dari negara-negara maju. (AFP)
BANYAK SAMPAH: Sungai Tigris di Turki termasuk yang sering dicemari oleh limbah plastik kiriman dari negara-negara maju. (AFP)

Advertisement

 

LONDON – Jerman tercatat sebagai eksportir limbah plastik terbesar di dunia sepanjang 2025 dengan pengiriman lebih dari 810 ribu ton ke luar negeri. Beban lingkungan tersebut banyak dialihkan ke kawasan negara-negara berkembang. Dilansir dari The Guardian, analisis data perdagangan oleh Watershed Investigations dan Basel Action Network menunjukkan sebagian besar limbah tersebut dikirim ke Turki, disusul Malaysia dan Indonesia. Praktik ini berulang kali dikaitkan dengan kerusakan lingkungan, pembuangan ilegal, pembakaran terbuka, serta pelanggaran ketenagakerjaan di negara tujuan.

"Pesisir Mediterania Turki adalah yang paling tercemar di seluruh kawasan karena limbah plastik dari pabrik daur ulang. Jumlah mikroplastik sangat besar—kadang orang bahkan tidak bisa masuk ke laut karena banyaknya sampah," beber ahli biologi laut asal Turki, Sedat Gundogdu.

Advertisement

Uni Eropa Bikin Aturan

Menyikapi situasi tersebut, Uni Eropa telah menyepakati larangan ekspor limbah plastik ke negara di luar kelompok OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang dijadwalkan berlaku mulai November 2026.

Menjelang pemberlakuan larangan itu, muncul kekhawatiran bahwa arus limbah akan dialihkan ke negara OECD berkembang atau kawasan Eropa Timur yang belum memiliki kapasitas pengelolaan memadai. "Negara kami menghasilkan 3,3 juta ton limbah plastik domestik, lebih dari dua kali kapasitas daur ulang kami," tutur Gundogdu.

Advertisement

Dari sisi kebijakan, anggota Parlemen Eropa dari kelompok Greens/European Free Alliance, Sara Matthieu, menyebut kebijakan itu sebagai momentum penting. "Ini adalah titik balik ketika Eropa mulai bertanggung jawab atas limbahnya sendiri," katanya.

Kritik dari Negara Penerima

Kritik datang dari negara penerima. Aktivis lingkungan Malaysia, Pua Lay Peng, menilai praktik pengalihkan sampah plastik dari negara maju ke negara berkembang merupakan bentuk ketimpangan global. "Ini adalah kolonialisme limbah," tegasnya. (din/dns)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer