
Oleh: Katamsi Ginano
JAGOSATU.COM - Saya tidak ingat persis waktunya, tetapi sekitar akhir 1980-an atau awal 1990-an. Ketika itu Suhendro Boroma (kelak memimpin salah satu jaringan media raksasa, Jawa Pos Group), Lily Djenaan (aktivitas perempuan dan lalu menjadi istrinya Suhendro), almarhum Haruna Marsaoly, Asripan Nani (kemudian membangun karir sebagai salah satu birokrat papan atas Sulawesi Utara), saya, dan banyak nama lainnya rutin berkumpul, diskusi, dan bual-bual. Jika tak silap, Suhendro kemudian menamakan kelompok yang sungguh cair ini sebagai Titian.
Tempat Titian bertemu bisa di mana saja. Di rumahnya Lily Djenaan di Tuminting (ayahnya, Profesor Djenaan, selalu menyambut dengan anggukan dan lalu diam), di Jalan Roda, di Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Gedung Serimpi, di Sekretariat Majalah Inovasi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado--tempat saya mengasah hobi menulis, atau di tempat kost-nya Suhendro di Kleak.
Satu hari, dalam diskusi di Kantor Majalah Inovasi, hadir anak muda Sangihe cerewet, pintar bahasa Inggris, punya banyak referensi yang (ketika itu) terasa ajaib, dan yang terpenting: dia lucu. Namanya Pitres Sombowadile, disapa akrab dengan Pite', mahasiswa Institut Teknologi Minaesa. Fakultas dan jurusannya? Entahlah. Siapa yang peduli.
Di Titian, siapa pun diterima sepanjang datang membawa otak, referensi sahih, dan mulut.
Mengingat Titian bukanlah kelompok rigid--anggotanya datang dan pergi sesuka hati--, hari itu Pite' otomatis jadi anggota. Saya tidak tahu dan tidak pernah bertanya pada Suhendro, Lily, atau kawan-kawan yang lain. Tapi demikianlah saya menafsir organisasi yang tidak pernah diformalkan itu dan keanggotannya.
Belakangan, saya lebih banyak runtang-runtung dengan Pite'. Aktivitas kami yang sangat banyak beririsan membuat saya dan Pite' lebih mudah bertemu dibanding dengan Suhendro dan lain-lain yang kian sibuk dengan pekerjaan mereka.
Dari keseharian pergaulan itu, saya menemukan banyak hal unik dari Pite'. Dia ternyata salah satu pelawak yang sempat membangun grup populer, Kuda Zaina. Anggotanya, seingat saya, selain Pite', ada Martinus Barole (teman seangkatan di Unsrat tapi beda fakultas), Sion (yang kemudian lebih populer sebagai anggota grup lawak Gideon), dan Muklis. Mereka sungguh lucu, terlebih Pite' dan Martinus yang memang punya bakat alamiah ditunjang referensi sekolahan.
Walau demikian, sepanjang pergaulan kami Pite' tak pernah membicarakan karir komedinya. Saya pernah menyinggung grup lawaknya--apalagi saya juga kenal pribadi dengan Martinus Barole dan segala ulahnya yang sering mengundang ngakak. Respons Pite hanya ah-uh-ah. Titik.
