
Catatan Etnografi Perjalanan Mahyudin Damis di Timur Tengah
JAGOSATU.COM - Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika bus rombongan kami mendekati pos pemeriksaan Israel. Saya menyebutnya ngeri-ngeri sedap. Ada rasa ingin tahu, tetapi juga kegelisahan yang tumbuh dari berbagai berita dan gambar tentang konflik Israel-Palestina yang selama ini saya ikuti.

Sebagai orang Indonesia, saya datang dengan latar pandangan yang tidak bisa dilepaskan dari dukungan bangsa ini terhadap kemerdekaan Palestina. Kami juga datang dengan kerinduan untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsa. Dua hal itu bertemu dalam perjalanan ini: kepentingan spiritual sebagai jemaah dan keingintahuan sebagai pengamat yang ingin memahami kehidupan masyarakat di wilayah yang sarat persoalan politik.
Ketika berhadapan dengan pemeriksaan perbatasan, pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam berita terasa memperoleh bentuk yang lebih dekat. Kini bukan lagi sekadar membaca tentang perbatasan. Kami sendiri sedang mengalaminya.

Ketika Ketua Rombongan Dipanggil
Seorang petugas perempuan berseragam hitam meminta kehadiran Leader Tour. Ia tidak langsung memeriksa paspor saya. Perhatiannya tertuju kepada Bunda Fahmia Yusuf, ketua rombongan yang mewakili Ventour Travel.
Petugas meminta dokumen yang berkaitan dengan pimpinan rombongan. Kemudian muncul pertanyaan apakah ada barang yang dititipkan kepada ketua rombongan atau kepada sesama jemaah.
Bunda Fahmia lalu bertanya kepada kami, apakah ada yang menitipkan barang.
Jawaban rombongan terdengar serentak.
