TEHERAN – Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik genting. Dalam empat hari terakhir, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia itu praktis tak bisa dilalui kapal komersial. Serangan drone dan ancaman terbuka dari militer Iran membuat pelayaran internasional memilih berhenti.
Sedikitnya empat kapal tanker dilaporkan terkena serangan. Data Lloyd’s List Intelligence mencatat, pada Senin (1/3), lalu lintas laut turun hingga 80 persen. Sebanyak 200 tanker minyak mentah harus parkir.
Dari jumlah tersebut, Sinokor dari Korea Selatan menjadi perusahaan yang paling banyak memarkir kapalnya. Sehari kemudian, sejumlah perusahaan asuransi maritim membatalkan perlindungan bagi kapal yang nekat melintas.
Akun The Islander di X juga melansir, sekitar 3.200 kapal berbagai jenis terjebak di Teluk Persia buntut ditutupnya selat sempit yang memisahkan Iran dengan Oman itu. Jika penutupan tersebut berlangsung selama 30 hari, hampir pasti dunia akan mengalami resesi.
Persoalannya, perang yang dimulai akibat serbuan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) pekan lalu itu belum menunjukkan tanda-tanda kapan berakhir. Kedua pihak masih saling serang hingga kemarin (4/3).
Vortexa, platform penyedia data real time pelayaran, menyebutkan, pada Senin (1/3), hanya ada empat kapal yang melintas. Padahal, biasanya rata-rata 24 kapal per hari melayari jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Kapal Iran sendiri biasanya setidaknya tiga kali dalam sehari melewati selat yang dilintasi sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia tersebut. "Kami akan menyerang dan membakar kapal mana pun yang mencoba melintas," kata Penasihat Senior Komandan Garda Revolusi Iran Brigjen Ebrahim Jabbari seperti dikutip dari The Guardian.
Selat Hormuz memang menjadi kartu as atau "kuncian" Iran. Tanpa perlu ditutup sepenuhnya pun, cukup diancam tapi menimbulkan ketakutan, pasokan energi dunia bakal limbung. Karena itu, negeri yang dulu bernama Persia tersebut sejauh jauh hari mengancam akan menutup selat tersebut jika diserang AS dan Israel.
Baca Juga: Pelaku Industri Minta Impor 105 Ribu Pikap Dibatalkan
Diserang Drone
Insiden terakhir dilaporkan terjadi Senin (2/3). Otoritas Perdagangan Maritim Inggris menyebut, proyektil tak dikenal meledak sangat dekat dengan sebuah kapal sekitar 40 mil barat Sharjah, Uni Emirat Arab.
Mengutip Pusat Keamanan Maritim Oman (MSC), Euronews melaporkan, sebuah tanker minyak dari Republik Kepulauan Marshall diserang drone di pantai Muscat, Oman. Seorang kru asal India tewas.
Berbagai laporan itu membuktikan ancaman Iran bukan main-main. Konon, hanya kapal dari Tiongkok dan Rusia—dua negara yang memiliki hubungan dekat dengan Iran—yang diizinkan melintas.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok meminta agar semua pihak menghentikan operasi militer dan menjaga keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Tiongkok merupakan importir minyak dan gas alam terbesar di dunia sehingga memiliki kepentingan besar terhadap jalur tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan, negaranya akan menawarkan asuransi kepada kapal di Teluk. Tidak hanya itu, Trump juga akan memerintahkan militernya mengawal kapal yang melewati Selat Hormuz.
"Saya telah memerintahkan United States Development Finance Corporation untuk menyediakan, dengan harga yang sangat wajar, asuransi risiko politik dan jaminan untuk keamanan keuangan semua perdagangan maritim, terutama energi yang melewati Teluk," kata Trump dalam akun Truth Social-nya seperti dilansir dari Al Jazeera.
Namun, belum jelas bagaimana mekanisme pengawalan tersebut atau kapal dari negara mana saja yang bakal dikawal. Negara-negara di Amerika mengimpor sekitar 12,5 persen minyaknya lewat selat itu. Sedangkan Tiongkok mencapai 45,7 persen.
Kontak Saudi
Ketegangan juga merembet ke fasilitas energi darat. Kilang Ras Tanura di Arab Saudi dilaporkan mengalami kerusakan setelah dua drone dicegat di atas area fasilitas. Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikabarkan telah menelepon Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dan menyatakan, Iran bukan pelaku penyerangan ke Ras Tanura. Belakangan, kuat diduga pelakunya adalah agen Mossad, badan intelijen Israel.
Menurut Tucker Carlson, komentator politik AS, Saudi dan Qatar telah menangkap dua agen Mossad. Israel, kata Carlson, sejak awal memang bertujuan mengadu domba sesama negara Teluk.
Apa yang terjadi di Selat Hormuz berdampak pada pasar global. Mengutip Time, harga minyak mentah Brent melonjak ke USD 83 per barel, naik sekitar 15 persen dibanding akhir pekan lalu. Di Eropa, harga crude oil futures melonjak 30 persen akibat pemogokan di Qatar yang merupakan eksportir utama. Sedangkan harga gas alam di AS naik 5 persen. (lyn/ttg/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy