Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Rabu, 12 November 2025, Amsal 10:19-21 Hati-Hati Gunakan Mulutmu.

A
Penulis: Alfianne Lumantow❯
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Amsal 10:19-21


Advertisement

HATI-HATI GUNAKAN MULUTMU!

"Dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, la berakal budi" (ay.19)

Masih ingatkah lagu Sekolah Minggu yang berbunyi: Hati-hati gunakan mulutmu, Hati-hati gunakan mulutmu. Karena Bapa di Sorga melihat ke Bawah. Hati-hati Gunakan Mulutmu!

Advertisement

Lagu ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menggunakan mulut atau perkataan. Mulut merupakan alat komunikasi utama yang memungkinkan seseorang mengungkapkan berbagai macam kata. Melalui ucapan, seseorang dapat menjadi saluran berkat: memotivasi, membawa damai, dan memberi pencerahan bagi sesama. Namun sebaliknya, perkataan juga bisa melukai, menimbulkan kemarahan, kekecewaan, bahkan memecah persekutuan.

Amsal 10:19-21 mengingatkan bagaimana kita mengendalikan mulut kita. Penulis Amsal menegaskan bahwa dalam berbicara, ada kebijaksanaan dalam menahan diri (ay.19b), nilai dari perkataan yang baik (ay.20a), dan dampak positifnya bagi pendengar yang mem- bangun relasi dan persekutuan (ay.21a). Tidak dapat dipungkiri, menahan diri untuk tidak berbicara bukanlah hal yang mudah. Tanpa sadar, kita sering terlibat dalam percakapan yang sebenamya belum kita pahami secara menyeluruh. Ironisnya, terkadang kita lebih banyak berkata-kata, ketimbang mendengarkan dan memahami terlebih dahulu.

Mari, mulai saat ini kita intropeksi diri: apakah kita sudah memakai "mulut menjadi berkat bagi sesama atau tidak?. Jadikan diri pembawa damai, sukacita dan pencerahan yang bermakna dalam setiap perkataan. Ucapan kita seharusnya menjadi sumber dorongan semangat dan pemeliharaan persekutuan, bukan sebaliknya. Berhentilah jika kehadiran kita tidak menghadirkan kedamaian atas setiap perkataan kita. Ingatlah bahwa setiap perkataan yang kita nyatakan, kita harus menyadari akan selalu melekat pada diri seseorang. Jika perkataan sangat membangun akan selalu menjadi penyemangat sepanjang hidupnya. Namun, jika perkataan membuat sakit hati, untuk menarik kembali perkataan sangat sulit. Jangan berkata lalu dipikirkan, tetapi berpikirlah sebelum berkata-kata.

Advertisement

 

Doa: Ya Tuhan, jaga dan jadikan diri kami pembawa damai melalui perkataan yang kami ungkapkan. Amin.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Senin, 2 November 2026,  Habakuk 1:12-14  Evaluasi Diri Tuhan Itu Ad

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Senin, 2 November 2026,  Habakuk 1:12-14  Evaluasi Diri Tuhan Itu Ad

"Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak tahan memandang kelaliman"

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Minggu, 1 November 2026,  Habakuk 1:1-2  Evaluasi Diri Kepekaan Dan

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Minggu, 1 November 2026,  Habakuk 1:1-2  Evaluasi Diri Kepekaan Dan

"Berapa lama lagi, ya TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar....."

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

"Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, yaitu Sabat, bagi umat Tuhan"

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer