Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Jumat, 12 Juni 2026,  Yakobus 4:11-17  Jika Tuhan Berkenan

A
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Advertisement

PEMBACAAN ALKITAB: Yakobus 4:13-17
TEMA: JIKA TUHAN BERKENAN

“Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’” (Yakobus 4:15)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti ini: “Jika Tuhan berkenan,” atau “Jika Tuhan mengizinkan.” Bagi sebagian orang, kalimat ini mungkin terdengar seperti kebiasaan rohani, bahkan mungkin dianggap sebagai formalitas belaka. Namun sesungguhnya, kalimat ini mengandung makna iman yang sangat dalam.

Advertisement

Ucapan “Jika Tuhan berkenan” bukan sekadar kata-kata, tetapi sebuah pengakuan bahwa hidup kita sepenuhnya berada dalam tangan Tuhan. Ini adalah pernyataan iman bahwa kita bukan penguasa atas hidup kita sendiri, melainkan Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu.

Yakobus dalam bagian ini menegur sekelompok orang, khususnya para pedagang, yang merencanakan masa depan mereka dengan penuh keyakinan, tetapi tanpa melibatkan Tuhan. Mereka berkata, “Hari ini atau besok kami akan pergi ke kota anu, kami akan tinggal di sana setahun, berdagang dan mendapat untung.” Mereka berbicara seolah-olah masa depan ada di tangan mereka.

Namun Yakobus mengingatkan bahwa sikap seperti ini adalah kesombongan. Mengapa? Karena mereka melupakan satu hal yang paling penting: Tuhan adalah Penentu segala sesuatu.

Advertisement

Ada sebuah ungkapan yang terkenal: “Man proposes, God disposes.” Manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Kita boleh memiliki rencana yang matang, strategi yang hebat, dan keyakinan yang besar, tetapi semua itu tetap berada di bawah kedaulatan Tuhan.

Saudara-saudari, kita sering jatuh dalam kesalahan yang sama. Di awal kita mungkin melibatkan Tuhan. Kita berdoa, kita meminta petunjuk, kita berserah. Namun seiring waktu, ketika kita mulai merasa terbiasa, merasa mampu, merasa sudah tahu caranya, kita mulai mengandalkan diri sendiri.

Doa mulai berkurang. Ketergantungan pada Tuhan mulai memudar. Kita mulai merasa bahwa semuanya bisa kita atur sendiri.

Inilah yang menjadi persoalan utama: ketika manusia merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.

Advertisement
Editor : Alfianne Lumantow

Artikel Terkait

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Sabtu, 19 Juni 2026,  2 Samuel 10:6-9  Strategi Hadapi Tantangan (MUSUH)

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Sabtu, 19 Juni 2026,  2 Samuel 10:6-9  Strategi Hadapi Tantangan (MUSUH)

Mereka bahkan tidak segan-segan menyewa tentara dari berbagai daerah, seperti Aram-Bet Rehob, Aram Zoba, negeri Ma'akha, dan orang Tob.

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 19 Juni 2026, 2 Samuel 10:1-5  Bahaya Cepat Menyakini Sudut Pandang Yang Berbeda

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 19 Juni 2026, 2 Samuel 10:1-5  Bahaya Cepat Menyakini Sudut Pandang Yang Berbeda

Raja Daud, dengan niat yang tulus, ingin menunjukkan belasungkawa kepada Hanun, anak dari Raja Nahas, yang telah meninggal.

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Rabu, 17 Juni 2026,  2 Samuel 6:15-19  Muliakan Tuhan Dalam Hidup Kita

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Rabu, 17 Juni 2026,  2 Samuel 6:15-19  Muliakan Tuhan Dalam Hidup Kita

“Tabut TUHAN dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di tengah-tengah kemah yang dibentangkan Daud untuk itu. Kemudian Daud mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer