Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wasit Terbaik Gagal Bertugas gara-gara Kebijakan Imigrasi AS

P
SOROTAN: Latihan timnas Jerman di W. Dennie Spry Soccer Stadium, Winston-Salem, North Carolina, AS, Senin (8/6). Jelang Piala Dunia 2026, banyak pihak merasa dirugikan kebijakan visa AS. (Foto: AFP)
SOROTAN: Latihan timnas Jerman di W. Dennie Spry Soccer Stadium, Winston-Salem, North Carolina, AS, Senin (8/6). Jelang Piala Dunia 2026, banyak pihak merasa dirugikan kebijakan visa AS. (Foto: AFP)

Advertisement

 WASHINGTON DC – Penugasan dari FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) sudah di tangan. Omar Abdulkadir Artan, wasit terbaik Afrika 2025, pun siap memimpin pertandingan di Piala Dunia 2026. Wasit asal Somalia itu bahkan sudah mendarat di Bandara Internasional Miami, AS, dengan dokumen lengkap pada Senin (8/6). Namun, dia diterbangkan kembali ke Turki.

Impiannya pun kandas. FIFA mengumumkan, wasit asal Somalia itu batal bertugas karena dilarang masuk Amerika Serikat (AS), salah satu dari tiga tuan rumah ajang akbar empat tahunan tersebut. Alasannya, Somalia masuk daftar 12 negara yang terkena travel ban pemerintah AS. Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) tidak mau memberikan pengecualian setelah melakukan vetting process atau prosedur investigasi dan evaluasi mendalam untuk menilai kelayakan seseorang. Artan menjadi korban kesekian kebijakan visa AS yang banyak dikeluhkan peserta Piala Dunia 2026 (selengkapnya lihat grafis). "Kami berwenang menanyai orang asing, memeriksa, dan menentukan kelayakan untuk masuk sesuai dengan hukum AS," tulis CBP, seperti dikutip dari ESPN.

Padahal, sumber dari Federasi Sepak Bola Somalia mengklaim, Artan sudah mengantongi visa AS yang sah. Selain itu, nama Artan juga sudah tercatat sebagai wasit elite FIFA sejak 2018. FIFA tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengupayakan agar Artan tetap bisa bertugas. "FIFA tidak terlibat dalam kebijakan imigrasi dari negara tuan rumah Piala Dunia, termasuk penentuan visa," sebut FIFA di situs resminya.

Kecaman demi Kecaman

Berbicara kepada AFP, Penasihat Kementerian Olahraga Somalia Ciise Aden mengecam kebijakan imigrasi AS dan ketidakberdayaan FIFA tersebut. "Menolak masuk dan mencegahnya menjadi wasit tidak hanya merugikan Artan, tetapi juga merusak komitmen sepak bola terhadap keadilan, prestasi, dan semangat fair play," kecam Aden.

Advertisement

Iran termasuk yang paling dirugikan. Pemberian visa kepada para pemain dan pelatih tertunda sehingga mengakibatkan mereka harus memindahkan markas dari Tucson, AS, ke Tijuana, Meksiko. Padahal, ketiga laga mereka pada fase Grup G bakal dijalani di Negeri Paman Sam. AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari dan berbuntut pada perang yang ketegangannya masih terasa hingga sekarang. AS dan Iran memang tengah menjalani perundingan damai, tetapi belum membuahkan hasil.

Visa untuk para pemain dan pelatih Iran baru keluar pada Jumat (5/6) pekan lalu, hanya berjarak sepekan sebelum Piala Dunia 2026 dimulai. Itu pun sekitar 14 ofisial gagal mendapatkannya. "Seharusnya kami sudah di sini pekan lalu. Perbedaan waktu 12 jam itu membutuhkan dua pekan penyesuaian," kata Amir Ghalenoei, pelatih Iran, setibanya di Tijuana pada Minggu (7/6), seperti dikutip dari The Guardian. Menurut Ghalenoei, dalam turnamen seperti Piala Dunia, biasanya sebelum urusan teknis, faktor etika dan kemaanusiaan menjadi pertimbangan. "Tapi, rupanya tidak demikian yang kami alami," katanya. Kapten Iran Ehsan Hajsafi pun memprotes FIFA atas keterlambatan keluarnya visa AS. "Kenapa begitu terlambat?" katanya.

Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) juga tidak dapat menjual tiket kepada para fans. Padahal, seharusnya setiap tim peserta Piala Dunia mendapatkan alokasi delapan persen tiket. Alasannya terkait dengan daftar negara yang terkena travel ban tersebut. Nasib serupa juga dialami Haiti, Senegal, dan Pantai Gading. FFIRI bahkan sudah sempat membuka penjualan tiket tersebut. "Tapi tiba-tiba itu (kuota tiket) ditarik. Kami tidak bisa menyediakan selembar tiket pun kepada pendukung kami," sebut FFIRI dalam pernyataannya.

Kebijakan AS yang berdampak besar pada Piala Dunia 2026 itu mendapatkan kecaman dari Amnesti Internasional. Organisasi tersebut menyebut, kebijakan visa dari AS sudah mencederai spirit Piala Dunia. "Piala Dunia adalah milik kita semua. Tidak ada Piala Dunia tanpa dunia," ujar Amnesti Internasional. (ren/ttg)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Debut Sempurna Mitchell Bakker

Debut Sempurna Mitchell Bakker

Mitchell Bakker tak membutuhkan waktu lama untuk mencuri perhatian publik Indonesia. Penyerang berusia 19 tahun itu langsung mengukir debut sempurna bersama Timnas Indonesia saat menundukkan Kamboja 5-1 pada laga....

Norwegia, Mesir, dan Tanjung Verde Disambut bak Pahlawan

Norwegia, Mesir, dan Tanjung Verde Disambut bak Pahlawan

Hanya ada satu juara yang akan mengangkat trofi Piala Dunia 2026 akhir pekan ini. Namun, capaian beberapa negara seperti Norwegia, Mesir, atau Tanjung Verde sudah terasa seperti gelar juara. Mereka tetap disambut bak....

Jersey La Albiceleste: Pilih Biru Tua untuk Mengulang Edisi 1986

Jersey La Albiceleste: Pilih Biru Tua untuk Mengulang Edisi 1986

MESKI berstatus tim away, Argentina sejatinya masih bisa mengenakan jersey kandang biru muda bergaris ketika menantang Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. Akan tetapi, La Albiceleste –julukan Argentina– memilih untuk

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer