Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Mingg, 28 Juni 2026, Bilangan 27:1-5  Menyuarakan Kesetaraan

A
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Advertisement

Pembacaan Alkitab: Bilangan 27:1–5
TEMA: MENYUARAKAN KESETARAAN

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Di dalam kehidupan bersama, sering kali kita mendengar kata “kesetaraan”. Kata ini terdengar indah, adil, dan penuh harapan. Namun dalam praktiknya, kesetaraan tidak selalu mudah diwujudkan.

Ada banyak suara yang terpinggirkan, ada banyak kelompok yang tidak didengar, dan ada banyak orang yang merasa tidak memiliki tempat dalam ruang pengambilan keputusan.

Advertisement

Firman Tuhan dalam Bilangan 27:1–5 membawa kita pada satu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah umat Israel. Lima anak perempuan dari Zelafehad  — Mahla, Noa, Hogla, Milka, dan Tirza —  datang menghadap Musa, Imam Eleazar, para pemimpin, dan seluruh umat Israel.

Mereka berdiri di hadapan otoritas yang besar, menyampaikan satu hal yang sangat penting: hak mereka untuk mendapat bagian warisan di tanah perjanjian.

Pada masa itu, hukum warisan lebih banyak berpihak kepada anak laki-laki. Karena Zelafehad tidak memiliki anak laki-laki, maka secara sistem sosial saat itu, namanya dianggap tidak memiliki penerus dalam pembagian tanah.

Advertisement

Namun anak-anak perempuannya tidak tinggal diam. Mereka tidak menerima ketidakadilan itu sebagai sesuatu yang final. Mereka datang dan menyuarakan keadilan.

Saudara-saudari, ayat 2 menegaskan bahwa mereka “berdiri di depan Musa dan Imam Eleazar, di depan para pemimpin dan segenap umat.” Ini bukan tindakan kecil. Ini adalah tindakan berani. Mereka berdiri di ruang publik, di hadapan sistem, di hadapan tradisi, dan di hadapan kebiasaan yang sudah lama berlangsung.

Ini adalah momen penting dalam Alkitab: suara yang terpinggirkan akhirnya berbicara, dan didengar oleh umat Tuhan.

Namun perlu kita pahami, apa yang mereka suarakan bukan sekadar soal harta. Ini bukan hanya tentang tanah warisan. Ini tentang eksistensi, tentang harga diri, tentang martabat seorang ayah dan keluarga mereka. Mereka sedang berkata: “Kami juga ada. Kami juga berhak. Kami juga bagian dari umat ini.”

Advertisement

Artikel Terkait

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

"Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, yaitu Sabat, bagi umat Tuhan"

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:1-4  Iman Menjadikan Kita Menyatu D

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:1-4  Iman Menjadikan Kita Menyatu D

"Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama sepeti kepada mereka..."

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasih

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasih

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasihat

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer