Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Kamis, 16 Juli 2026, 1 Petrus 3:8-12 Jangan Membalas Kejahatan Dengan Kejahatan

Pembacaan Alkitab: 1 Petrus 3:8-12
TEMA : JANGAN MEMBALAS KEJAHATAN DENGAN KEJAHATAN
“Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.”
(1 Petrus 3:9)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa kejahatan, penghinaan, perlakuan tidak adil, dan perkataan yang menyakitkan dapat terjadi kepada siapa saja. Ada kalanya kita mengalami tindakan orang lain yang membuat hati terluka.
Ada orang yang menyakiti kita melalui perkataan, sikap, maupun tindakan. Secara manusiawi, ketika kita disakiti, muncul keinginan untuk membalas. Kita merasa bahwa orang yang melakukan kejahatan kepada kita harus mendapatkan perlakuan yang sama.
Namun, Firman Tuhan hari ini memberikan pengajaran yang berbeda. Rasul Petrus mengingatkan jemaat Tuhan agar tidak hidup mengikuti cara dunia yang membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk menghadirkan kasih, pengampunan, dan berkat, bahkan kepada mereka yang melakukan kesalahan terhadap kita.
Wayne Gerard Trotman pernah mengatakan, “Ketika kamu membalas kejahatan dengan kejahatan, kamu akan menjadi jahat.” Perkataan ini mengingatkan bahwa ketika kita memilih membalas kejahatan dengan cara yang sama, kita sebenarnya sedang membiarkan diri kita dikuasai oleh kejahatan tersebut.
Mahatma Gandhi juga pernah mengutip perkataan Martin Luther bahwa “mata ganti mata hanya membuat seluruh dunia menjadi buta.” Pesan ini menunjukkan bahwa balas dendam tidak pernah menyelesaikan masalah. Jika setiap orang membalas luka dengan luka, kebencian dengan kebencian, dan kejahatan dengan kejahatan, maka dunia akan terus berada dalam lingkaran permusuhan yang tidak berakhir.
Saudara-saudari, Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak akan membawa kedamaian. Mungkin untuk sementara seseorang merasa puas karena telah membalas perlakuan buruk yang diterimanya, tetapi sebenarnya hatinya tetap tidak mengalami ketenangan.
Kebencian hanya melahirkan kebencian yang baru. Kemarahan yang tidak dikendalikan dapat menghancurkan hubungan, merusak keluarga, memecah persaudaraan, bahkan membuat seseorang kehilangan sukacita hidup.
