Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Jumat, 24 Juli 2026, Kejadian 43:1-10  Life Is A Choice  

A
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Advertisement

Pembacaan Alkitab: Kejadian 43:1–10

Tema: LIFE IS A CHOICE?

"Kita adalah hasil dari pilihan-pilihan kita, bukan sekadar hasil dari keadaan kita."

Advertisement

"Kelaparan di negeri itu sungguh dahsyat." (Kejadian 43:1)

Shalom, Sobat Muda yang dikasihi Tuhan. Ada sebuah ungkapan yang sangat populer di kalangan anak muda, yaitu "Life is a choice"—hidup adalah pilihan. Setiap hari kita diperhadapkan dengan berbagai keputusan. Ada keputusan yang tampak sederhana, seperti memilih bangun lebih pagi atau menunda alarm, memilih belajar atau bermain gim, memilih menabung atau menghabiskan uang, memilih berkata jujur atau berbohong.

Namun ada juga keputusan besar yang dapat menentukan arah hidup kita, seperti memilih jurusan kuliah, pekerjaan, pasangan hidup, komunitas, bahkan memilih tetap setia kepada Tuhan atau mengikuti arus dunia.

Advertisement

Setiap pilihan membawa konsekuensi. Tidak ada keputusan yang benar-benar netral. Karena itu, kehidupan kita hari ini sebagian besar adalah hasil dari keputusan-keputusan yang pernah kita ambil. Memang ada keadaan yang tidak dapat kita kendalikan, tetapi cara kita merespons keadaan itulah yang akan membentuk masa depan kita.

Firman Tuhan hari ini membawa kita kepada keluarga Yakub yang sedang menghadapi situasi yang sangat sulit. Alkitab mengatakan bahwa kelaparan di negeri itu sungguh dahsyat. Persediaan makanan mulai habis. Jika mereka tidak segera bertindak, seluruh keluarga bisa mati kelaparan. Namun masalahnya bukan hanya soal makanan.

Yakub masih menyimpan luka yang dalam karena kehilangan Yusuf. Bertahun-tahun sebelumnya ia percaya bahwa Yusuf telah mati diterkam binatang buas. Luka itu membuatnya sangat takut kehilangan Benyamin, anak bungsunya. Ketika Mesir mensyaratkan agar Benyamin ikut datang jika mereka ingin membeli gandum lagi, Yakub menolak.

Di sinilah terjadi pergumulan yang besar. Jika Benyamin tidak pergi, mereka tidak akan memperoleh makanan. Tetapi jika Benyamin pergi, Yakub takut kehilangan anak yang paling dikasihinya.

Sering kali hidup memang seperti itu. Kita diperhadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Kadang-kadang tidak ada pilihan yang benar-benar nyaman. Kita harus memilih di antara dua hal yang sama-sama berat.

Bukankah kita juga pernah mengalaminya? Haruskah tetap bertahan dalam lingkungan pergaulan yang menjauhkan kita dari Tuhan, atau berani kehilangan teman demi menjaga iman?

Advertisement

Artikel Terkait

Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Jumat, 31 Juli 2026, 2 Yohanes 1:1-3  Hidup Dalam Kasih Dan Kebenaran

Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Jumat, 31 Juli 2026, 2 Yohanes 1:1-3  Hidup Dalam Kasih Dan Kebenaran

"Anugerah, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih."

Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Kamis, 30 Juli 2026, 1 Yohanes 3:11-18  Makna Kasih Bagi Orang Percaya

Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Kamis, 30 Juli 2026, 1 Yohanes 3:11-18  Makna Kasih Bagi Orang Percaya

"Dengan inilah kita mengenal kasih, yaitu bahwa Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita."

Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Rabu, 29 Juli 2026,  1 Yohanes 2:28-3:3  Identitas Yang Menunjukkan Siapa Kita

Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Rabu, 29 Juli 2026,  1 Yohanes 2:28-3:3  Identitas Yang Menunjukkan Siapa Kita

Yohanes berkata bahwa kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer