Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 25 Juli 2026,  Kejadian 45:1-7  Pengampunan Membuka Pintu Masa Depan

A
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Advertisement

Pembacaan Alkitab: Kejadian 45:1–7
Tema: Pengampunan Membuka Pintu Masa Depan

"Sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kamu telah menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu." (Kejadian 45:5)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Tidak ada manusia yang tidak pernah terluka. Luka bisa datang dari orang yang tidak kita kenal, tetapi sering kali luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Advertisement

Luka karena pengkhianatan sahabat, perkataan pasangan hidup, sikap anak kepada orang tua, pertengkaran antarsaudara, bahkan konflik di dalam persekutuan dan pelayanan. Luka-luka seperti itu tidak mudah dilupakan. Tidak sedikit orang yang memilih menyimpan dendam selama bertahun-tahun karena merasa tidak sanggup mengampuni.

Namun firman Tuhan hari ini memperlihatkan kepada kita sebuah kisah yang sangat indah tentang kuasa pengampunan. Kisah Yusuf adalah kisah tentang seorang yang mengalami penderitaan yang panjang, tetapi tidak membiarkan kepahitan menguasai hidupnya.

Ketika Yusuf masih muda, ia dibenci oleh saudara-saudaranya. Kebencian itu semakin besar hingga mereka menjual Yusuf sebagai budak ke Mesir. Bukan hanya kehilangan keluarga, Yusuf juga mengalami fitnah, dipenjara tanpa kesalahan, dan menjalani hidup yang penuh penderitaan. Jika dipikir secara manusiawi, Yusuf memiliki banyak alasan untuk membalas dendam ketika akhirnya ia menjadi penguasa di Mesir.

Advertisement

Tetapi saat saudara-saudaranya berdiri di hadapannya, sesuatu yang luar biasa terjadi. Yusuf tidak mampu lagi menahan emosinya. Ia menangis dengan suara yang begitu keras sehingga terdengar sampai ke istana Firaun. Tangisan Yusuf bukanlah tangisan kelemahan. Itu adalah tangisan seorang yang selama bertahun-tahun membawa luka, tetapi akhirnya memilih melepaskannya di hadapan Tuhan. Air mata itu menjadi tanda bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian.

Yang lebih mengagumkan lagi adalah perkataan Yusuf kepada saudara-saudaranya, "Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri." Kalimat ini menunjukkan bahwa Yusuf bukan hanya mengampuni, tetapi juga berusaha memulihkan hati saudara-saudaranya yang dipenuhi rasa bersalah.

Yusuf tidak berkata, "Sekarang giliran kalian merasakan penderitaan." Ia juga tidak mengungkit semua kejahatan yang pernah dilakukan terhadap dirinya. Sebaliknya, ia menghibur mereka. Inilah hati yang telah dipulihkan oleh Tuhan.

Saudara-saudara, Mengampuni bukan berarti menyatakan bahwa kesalahan itu tidak pernah terjadi. Yusuf tidak pernah berkata bahwa tindakan saudara-saudaranya adalah benar. Menjual seseorang sebagai budak tetaplah sebuah kejahatan. Namun Yusuf memilih melihat sesuatu yang lebih besar daripada kejahatan manusia. Ia melihat tangan Allah yang bekerja di balik seluruh peristiwa hidupnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

"Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, yaitu Sabat, bagi umat Tuhan"

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:1-4  Iman Menjadikan Kita Menyatu D

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:1-4  Iman Menjadikan Kita Menyatu D

"Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama sepeti kepada mereka..."

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasih

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasih

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasihat

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer