Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Senin, 27 Juli 2026, 1 Yohanes 2:1-6 Mengaku Aku Mengenal

Pembacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:1–6
Tema: Mengaku-Aku Mengenal
"Siapa yang berkata, 'Aku mengenal Dia,' tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran." (1 Yohanes 2:4)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup pada zaman ketika informasi tentang seseorang sangat mudah diperoleh. Melalui media sosial, televisi, atau internet, kita dapat mengetahui kehidupan seorang tokoh, artis, atlet, atau pemimpin dunia.
Kita mengenal nama mereka, mengetahui kebiasaan mereka, bahkan mungkin hafal perjalanan hidup mereka. Namun, apakah semua itu berarti kita benar-benar mengenal mereka? Tentu tidak.
Ada sebuah ilustrasi tentang seorang pemuda yang sangat mengidolakan Lisa, anggota grup BLACKPINK. Ia rela mengeluarkan banyak uang untuk menghadiri konser, membeli berbagai barang yang berkaitan dengan idolanya, dan mengikuti semua berita tentang dirinya. Bahkan kepada teman-temannya ia berkata dengan penuh keyakinan, "Aku sudah seperti kenal dekat dengan Lisa. Suatu hari nanti aku akan menikah dengannya."
Pernyataan itu terdengar lucu, tetapi menggambarkan sebuah fenomena yang nyata pada zaman sekarang. Seseorang dapat merasa sangat dekat dengan tokoh yang sebenarnya tidak mengenalnya sama sekali. Pete Ward, dalam bukunya Celebrity Worship, menjelaskan bahwa media dapat menciptakan ilusi kedekatan. Kita merasa mengenal seseorang hanya karena sering melihat dan mendengar tentang dirinya, padahal hubungan itu hanya terjadi dari satu arah.
Fenomena seperti ini ternyata juga dapat terjadi dalam kehidupan rohani. Banyak orang berkata bahwa mereka mengenal Tuhan, tetapi pengenalan itu berhenti pada pengetahuan, perasaan, atau pengakuan di bibir. Mereka mengenal nama Yesus, mengetahui kisah-kisah Alkitab, bahkan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Namun kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh hidup bersama Kristus.
Karena itulah Rasul Yohanes menulis dengan sangat tegas, "Siapa yang berkata, 'Aku mengenal Dia,' tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran."
Perkataan Yohanes ini terasa keras, tetapi justru karena ia mengasihi jemaat. Ia ingin mereka memahami bahwa iman yang sejati tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang taat kepada Allah.
Pada masa itu, gereja sedang menghadapi pengaruh ajaran proto-gnostisisme. Kelompok ini menganggap bahwa keselamatan hanya bergantung pada pengetahuan rohani. Mereka merasa bahwa setelah memperoleh pengetahuan tertentu tentang Allah, kehidupan moral tidak lagi menjadi penting. Dengan kata lain, seseorang dapat mengaku mengenal Tuhan tetapi tetap hidup dalam dosa.
