Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Selasa, 28 Jul 2026, 1 Yohanes 2:22-27 Kasih Dan Kebenaran

Pembacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:22–27
Tema: Kasih dan Kebenaran
"Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak." (1 Yohanes 2:22)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab: bagaimana kita menyatakan kasih tanpa kehilangan kebenaran? Apakah mengasihi berarti kita harus selalu setuju dengan semua hal? Apakah demi menjaga perasaan orang lain kita boleh membiarkan sesuatu yang salah?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting dalam kehidupan masa kini. Banyak orang memahami kasih hanya sebagai sikap menerima, menyenangkan, dan tidak menyinggung siapa pun. Tentu sikap menghargai dan menjaga perasaan orang lain adalah hal yang baik. Namun, kasih yang sejati tidak sama dengan membiarkan seseorang berjalan menuju kesalahan tanpa peringatan.
Ada sebuah ilustrasi tentang sebuah diskusi mengenai hubungan antara kasih dan kebenaran. Dalam diskusi tersebut, seseorang mengatakan bahwa kebohongan kecil dapat dibenarkan demi menjaga perasaan orang lain. Misalnya, ketika seseorang melihat saudaranya memakai pakaian yang kurang pantas, apakah lebih baik berkata jujur atau diam saja agar tidak menyakiti hatinya?
Jawaban yang diberikan adalah bahwa kasih yang sejati tidak dibangun di atas kebohongan. Kebenaran tetap harus disampaikan, tetapi dengan cara yang penuh kasih dan bijaksana. Kita tidak dipanggil untuk menghina atau merendahkan orang lain, tetapi kita juga tidak dipanggil untuk membiarkan kesalahan hanya karena takut menimbulkan ketidaknyamanan.
Inilah ketegangan yang juga kita temukan dalam surat Rasul Yohanes. Yohanes dikenal sebagai rasul kasih. Ia sering berbicara tentang kasih Allah dan panggilan orang percaya untuk saling mengasihi. Namun dalam pembacaan hari ini, kita menemukan perkataan Yohanes yang sangat tegas. Ia menyebut orang yang menyangkal Kristus sebagai pendusta dan antikristus.
Mengapa seorang rasul kasih menggunakan bahasa yang begitu keras? Apakah Yohanes sedang mengajarkan jemaat untuk membenci orang yang berbeda pandangan? Tentu tidak.
Yohanes bukan sedang mengajarkan kebencian terhadap pribadi seseorang. Ia sedang memberikan peringatan pastoral terhadap ajaran yang dapat menghancurkan iman jemaat. Kasih kepada manusia tidak berarti kita harus diam terhadap sesuatu yang merusak hubungan manusia dengan Allah. Kasih yang sejati selalu peduli terhadap kebenaran.
Saudara-saudara, Pada masa Yohanes, jemaat sedang menghadapi persoalan serius. Ada kelompok yang sebelumnya menjadi bagian dari persekutuan orang percaya, tetapi kemudian memisahkan diri karena memiliki pemahaman yang berbeda tentang Yesus Kristus.
