Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Rabu, 29 Juli 2026, 1 Yohanes 2:28-3:3 CEO Perusahaan Kasih

PEMBACAAN ALKITAB: 1 Yohanes 2:28–3:3
TEMA: CEO PERUSAHAAN KASIH
"Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah." (1 Yohanes 3:1)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Di tengah maraknya tontonan digital, drama China atau dracin menjadi salah satu hiburan yang digemari berbagai kalangan, termasuk orang dewasa. Salah satu alur cerita yang sering muncul adalah tentang seorang tokoh yang menyembunyikan identitasnya. I
a bekerja sebagai pegawai biasa, diperlakukan rendah oleh rekan-rekannya, bahkan sering dimanfaatkan. Namun, pada suatu saat identitasnya terbongkar. Ternyata ia adalah anak pemilik perusahaan atau anak direktur utama (CEO).
Seketika, perlakuan orang-orang berubah. Mereka yang dahulu meremehkannya menjadi sangat hormat, bahkan takut. Statusnya ternyata jauh lebih tinggi daripada yang mereka bayangkan.
Ilustrasi ini membantu kita memahami pesan Firman Tuhan hari ini. Rasul Yohanes mengingatkan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus memiliki identitas yang sangat istimewa. Kita bukan sekadar pengikut agama, bukan hanya anggota gereja, melainkan anak-anak Allah.
Perhatikan bagaimana Yohanes memulai ayat pertama dengan seruan, "Lihatlah!" Kata ini bukan sekadar ajakan untuk melihat dengan mata, tetapi untuk merenungkan dengan sungguh-sungguh.
Yohanes ingin jemaat berhenti sejenak dan mengagumi kasih Allah yang luar biasa. "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah."
Yang luar biasa bukan hanya karena kita disebut anak-anak Allah, tetapi Yohanes langsung menegaskan, "dan memang kita adalah anak-anak Allah." Ini bukan sekadar gelar kehormatan. Ini adalah identitas yang sungguh-sungguh diberikan oleh kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus.
Di dunia ini, identitas sering ditentukan oleh banyak hal: jabatan, kekayaan, pendidikan, pekerjaan, keluarga, atau pencapaian. Ada orang yang merasa dirinya berharga karena memiliki posisi tinggi. Ada yang minder karena merasa tidak memiliki apa-apa. Tetapi Firman Tuhan mengingatkan bahwa identitas orang percaya tidak ditentukan oleh dunia. Nilai diri kita ditentukan oleh kasih Allah yang menerima kita sebagai anak-anak-Nya.
