Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Rabu, 29 Juli 2026, 1 Yohanes 3:4-10 Habituasi Kasih

PEMBACAAN ALKITAB: 1 Yohanes 3:4–10
TEMA: HABITUASI KASIH
"Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak terus-menerus berbuat dosa. Sebab, benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah." (1 Yohanes 3:9)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ada sebuah pepatah yang mengatakan, "Kebiasaan membentuk karakter, dan karakter menentukan masa depan." Apa yang kita lakukan berulang kali, lambat laun akan menjadi bagian dari diri kita. Tidak ada seorang pun yang tiba-tiba menjadi pribadi yang jujur atau tidak jujur, murah hati atau egois, penuh kasih atau penuh kebencian. Semua terbentuk melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari.
Demikian pula dengan dosa. Hampir semua dosa besar berawal dari langkah-langkah kecil yang dianggap sepele. Korupsi dalam jumlah besar biasanya dimulai dari penyalahgunaan kecil yang dibiarkan.
Perselingkuhan sering diawali dengan hubungan yang tampaknya "hanya berteman" tetapi tanpa batas yang sehat. Penyalahgunaan narkoba sering dimulai dari rasa ingin tahu atau ajakan teman. Kebohongan besar lahir dari kebohongan-kebohongan kecil yang tidak pernah diakui.
Masalahnya bukan hanya pada tindakan pertama, tetapi pada kebiasaan yang terus dipelihara. Ketika hati tidak lagi peka terhadap dosa, seseorang mulai menganggap yang salah sebagai sesuatu yang biasa. Dosa yang dahulu terasa mengganggu hati nurani akhirnya menjadi gaya hidup.
Inilah yang hendak disampaikan Rasul Yohanes kepada jemaat dalam bacaan kita hari ini.
Pada masa itu muncul sekelompok orang yang dipengaruhi oleh ajaran proto-gnostisisme. Mereka beranggapan bahwa yang penting adalah pengetahuan rohani, sedangkan apa yang dilakukan tubuh tidak terlalu memengaruhi hubungan dengan Allah. Dengan kata lain, seseorang dapat mengaku mengenal Allah tetapi tetap hidup dalam dosa tanpa merasa perlu bertobat.
Pandangan seperti ini ditolak dengan tegas oleh Yohanes. Ia berkata bahwa setiap orang yang terus-menerus hidup dalam dosa sedang hidup dalam anomia. Kata Yunani ini berarti "tanpa hukum" atau "melawan hukum". Bukan sekadar melanggar aturan tertentu, tetapi menolak tatanan hidup yang telah Allah tetapkan.
Dosa bukan hanya kesalahan moral. Dosa adalah pemberontakan terhadap kehendak Allah. Ketika seseorang terus memilih hidup dalam dosa tanpa penyesalan, ia sedang menolak pemerintahan Allah atas hidupnya.
