Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Senin, 10 Agustus 2026, Yohanes 8:1-11 Keadilan Sosial Menurut Tuhan

Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:1–11
TEMA : KEADILAN SOSIAL MENURUT TUHAN
"Namun, Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah." (Yohanes 8:6b)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Keadilan merupakan dambaan setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang ingin diperlakukan secara tidak adil. Kita ingin dihargai, diperlakukan sama di hadapan hukum, memperoleh kesempatan yang sama dalam kehidupan, dan menikmati hak-hak sebagai sesama manusia.
Di Indonesia, cita-cita ini tercermin dalam sila kelima Pancasila, yaitu "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia." Sila ini mengajarkan bahwa setiap orang berhak memperoleh perlakuan yang adil tanpa membedakan suku, agama, status sosial, maupun latar belakangnya. Keadilan sosial berarti setiap orang diperlakukan dengan martabat yang sama sehingga kehidupan bersama dipenuhi damai, kesejahteraan, dan saling menghormati.
Namun dalam kenyataannya, keadilan sering kali sulit diwujudkan. Tidak sedikit orang yang dihukum karena kesalahannya, sementara orang lain yang melakukan kesalahan serupa justru lolos dari hukuman. Ada orang yang mudah menghakimi sesamanya, tetapi enggan melihat kesalahan dalam dirinya sendiri.
Ada pula yang menggunakan hukum demi kepentingan pribadi atau kelompok. Keadilan akhirnya berubah menjadi alat untuk menjatuhkan orang lain, bukan untuk menegakkan kebenaran.
Situasi seperti inilah yang kita temukan dalam bacaan Injil hari ini. Ketika Yesus sedang mengajar di Bait Allah, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi datang membawa seorang perempuan yang tertangkap basah sedang berbuat zina.
Perempuan itu ditempatkan di tengah-tengah orang banyak, dipermalukan di depan umum, dan dijadikan objek penghakiman. Mereka berkata kepada Yesus bahwa menurut hukum Musa, perempuan seperti itu harus dilempari batu sampai mati. Lalu mereka bertanya, "Apakah pendapat-Mu?"
Sekilas pertanyaan itu tampak sebagai upaya mencari keadilan. Namun sesungguhnya mereka tidak sedang mencari kebenaran. Yohanes menjelaskan bahwa mereka sedang mencobai Yesus supaya mempunyai alasan untuk menyalahkan-Nya.
Mereka tidak peduli kepada perempuan itu. Mereka juga tidak sungguh-sungguh peduli pada hukum Allah. Yang mereka inginkan hanyalah menjebak Yesus.
