Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Selasa, 18 Agustus 2026, Yohanes 8:39-42  Mengerjakan Pekerjaan Yang Dikerjakan Oleh Abraham

A
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Advertisement

Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:39-42
Tema: Mengerjakan Pekerjaan yang Dikerjakan oleh Abraham

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Banyak orang sangat memperhatikan asal-usul dan latar belakang keluarga. Ada yang bangga karena ia adalah “anak pemilik perusahaan”, “anak pejabat”, atau berasal dari keluarga terpandang.

Dalam kehidupan bergereja pun hal yang sama dapat terjadi. Ada orang yang berkata, “Saya cucu pendiri gereja ini,” atau “Keluarga kami sudah menjadi Kristen sejak zaman Belanda.” Ada pula yang merasa lebih dekat dengan Tuhan karena keluarganya sudah lama aktif dalam pelayanan gereja.

Advertisement

Hal-hal seperti itu memang dapat menjadi kebanggaan dan sejarah yang patut disyukuri. Namun, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa identitas iman tidak cukup hanya berdasarkan keturunan, status, atau sejarah keluarga. Iman harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Yohanes 8:39, orang-orang Yahudi berkata kepada Yesus, “Bapa kami ialah Abraham.” Mereka merasa memiliki kedudukan istimewa karena mereka adalah keturunan Abraham. Abraham adalah tokoh penting dalam sejarah iman mereka. Karena itu, mereka merasa bahwa status sebagai keturunan Abraham sudah menjadi jaminan bahwa mereka berada di pihak Allah.

Tetapi Yesus memberikan jawaban yang sangat tegas: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.” Dengan kata lain, Yesus sedang berkata bahwa menjadi anak Abraham bukan hanya persoalan darah dan keturunan. Anak Abraham yang sejati adalah orang yang memiliki iman dan kehidupan yang mencerminkan iman Abraham.

Advertisement

Lalu, apa pekerjaan Abraham yang dimaksudkan Yesus?

Abraham dikenal sebagai orang yang percaya kepada Allah. Ketika Allah memanggilnya untuk meninggalkan negeri dan keluarganya, Abraham berani melangkah dalam iman. Ia tidak mengetahui seluruh jalan yang akan ditempuh, tetapi ia percaya kepada janji Allah. Abraham juga belajar menaati Allah, bahkan ketika ketaatan itu menuntut pengorbanan yang besar.

Jadi, menjadi anak Abraham berarti hidup dalam iman, percaya kepada Allah, mendengarkan suara-Nya, dan berani melakukan kehendak-Nya. Iman bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan dengan mulut, tetapi sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan.

Saudara-saudari, Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan kita. Kita mungkin sudah lama menjadi anggota gereja. Kita mungkin rajin beribadah, aktif dalam pelayanan, memiliki keluarga Kristen, bahkan terlibat dalam berbagai kegiatan gerejawi.

Advertisement

Artikel Terkait

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

"Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, yaitu Sabat, bagi umat Tuhan"

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:1-4  Iman Menjadikan Kita Menyatu D

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:1-4  Iman Menjadikan Kita Menyatu D

"Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama sepeti kepada mereka..."

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasih

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasih

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasihat

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer