Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Selasa, 18 Agustus 2026, Yohanes 8:43-47 Mengatakan Kebenaran

Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:43-47
Tema: Mengatakan Kebenaran
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pernahkah kita membayangkan seorang dokter memberikan obat kepada dua orang pasien yang menderita penyakit yang sama? Pasien pertama menerima obat itu dan meminumnya dengan teratur sesuai petunjuk dokter.
Pasien kedua membaca label obat tersebut, mencari tahu kandungannya, membicarakannya dengan banyak orang, bahkan mungkin menghafal nama dan manfaat obat itu. Tetapi ia tidak pernah meminumnya.
Beberapa waktu kemudian, pasien pertama mengalami kesembuhan. Sementara pasien kedua tetap sakit. Mengapa? Bukan karena ia tidak mengetahui obatnya, tetapi karena pengetahuannya tidak pernah menghasilkan tindakan.
Gambaran sederhana ini dapat menolong kita memahami kehidupan iman. Kita bisa membaca Alkitab, mendengarkan khotbah, mengikuti ibadah, membicarakan firman Tuhan, bahkan menghafal banyak ayat. Namun, jika firman itu tidak kita terima dan tidak kita lakukan, firman tersebut hanya menjadi pengetahuan dan tidak menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan.
Dalam Yohanes 8:43-47, Yesus sedang berbicara kepada orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan-Nya. Mereka mendengar perkataan Yesus, tetapi hati mereka tertutup. Karena itu Yesus berkata dalam ayat 45, “Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku.”
Menarik untuk diperhatikan: justru karena Yesus mengatakan kebenaran, mereka tidak percaya kepada-Nya. Mengapa? Karena kebenaran sering kali tidak nyaman. Kebenaran menyingkapkan sesuatu yang ingin kita sembunyikan. Kebenaran membuat kita harus berhadapan dengan diri sendiri.
Saudara-saudari, Ada dua jenis mendengar. Pertama, mendengar dengan telinga. Kita mendengar suara, membaca tulisan, memahami kalimat, bahkan mampu mengingat isi khotbah. Ini adalah proses mendengar secara fisik dan intelektual.
Tetapi ada jenis mendengar yang kedua, yaitu mendengar dengan hati. Mendengar dengan hati berarti membiarkan firman Tuhan masuk ke dalam diri, menegur kita, mengoreksi kita, mengubah cara berpikir kita, dan akhirnya menghasilkan pertobatan serta ketaatan.
Kita bisa bertahun-tahun menjadi anggota gereja. Kita bisa rajin beribadah, aktif dalam pelayanan, menjadi presbiter, terlibat dalam berbagai kepanitiaan, atau menjalankan tugas dalam pelayanan gerejawi. Semua itu tentu baik. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah firman Tuhan sungguh-sungguh mengubah kehidupan kita?
