Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Rabu, 19 Agustus 2026, Yohanes 8:48-53  Bagi Dia Yang Menghakimi

A
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Advertisement

Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:48-53
Tema: Bagi Dia yang Menghakimi

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan perbedaan pendapat. Apalagi di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terbuka, setiap orang merasa memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya.

Media sosial membuat seseorang dapat memberikan komentar dengan cepat, bahkan sebelum memahami persoalan secara utuh. Akibatnya, tidak jarang kita menemukan kata-kata kasar, caci maki, tuduhan, dan penghakiman terhadap orang lain.

Advertisement

Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan kedewasaan untuk tidak selalu membalas setiap perkataan yang menyakitkan. Ada kalanya diam bukan berarti kita lemah atau takut. Diam dapat menjadi tanda bahwa kita tidak mau dikuasai oleh emosi dan tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan.

Hal yang menarik, situasi seperti ini juga dialami oleh Yesus. Dalam Yohanes 8:48-53, orang-orang Yahudi menuduh Yesus dengan perkataan yang sangat keras. Mereka menyebut Yesus sebagai orang Samaria dan mengatakan bahwa Ia kerasukan setan. Tuduhan itu bukanlah tuduhan ringan. Mereka sedang berusaha merendahkan martabat dan kehormatan Yesus.

Namun, bagaimana Yesus merespons? Yesus tidak terjebak dalam pembelaan ego yang reaktif. Ia tidak membalas hinaan dengan hinaan. Ia tidak berusaha mati-matian membuktikan bahwa diri-Nya hebat di hadapan orang-orang yang menolak-Nya. Sebaliknya, Yesus mengarahkan perhatian kepada Bapa.

Advertisement

Dalam ayat 50, Yesus berkata: “Namun, Aku tidak mencari hormat bagi-Ku: ada Satu yang mencarinya dan Dia juga yang menghakimi.”

Perkataan ini sangat kuat. Yesus mengetahui siapa diri-Nya dan dari mana Ia datang. Karena itu, penilaian manusia tidak menentukan nilai diri-Nya. Yesus tidak hidup untuk mencari pengakuan manusia. Ia hidup untuk melakukan kehendak Bapa.

Saudara-saudari, Di sinilah kita dapat belajar sesuatu yang sangat penting. Sering kali kita merasa sangat terluka ketika orang lain salah memahami atau menilai kita.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kita, kita merasa harus segera membalas. Kita ingin menjelaskan semuanya. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar dan orang lain salah.

Advertisement

Artikel Terkait

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 31 Okotber 2026, Ibrani 4:9-10  Sesaat Merenungkan Karya Tuha

"Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, yaitu Sabat, bagi umat Tuhan"

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:1-4  Iman Menjadikan Kita Menyatu D

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Jumat, 30 Okotber 2026, Ibrani 4:1-4  Iman Menjadikan Kita Menyatu D

"Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama sepeti kepada mereka..."

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasih

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasih

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Kamis, 29 Okotber 2026, Ibrani 3:7-13  Saling Memulihkan Dalam Nasihat

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer