Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Minggu, 30 Agustus 2026, 1 Korintus 11:17-22 Makan Bersama Sebagai Tanda Syukur

Pembacaan Alkitab: 1 Korintus 11:17-22
Tema: Makan Bersama Sebagai Tanda Syukur
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap kita tentu memiliki pengalaman tentang makan bersama. Meja makan mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan keluarga dan persekutuan.
Di meja makan, kita tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga berbagi cerita, pengalaman, sukacita, bahkan pergumulan. Meja makan menjadi tempat di mana hubungan dibangun dan kasih dinyatakan.
Namun, kita juga menyadari bahwa makan bersama tidak selalu berarti hati kita sungguh-sungguh bersama. Ada keluarga yang duduk di meja yang sama, tetapi masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.
Ada yang sibuk dengan telepon genggam, ada yang memikirkan pekerjaan, ada pula yang membawa kemarahan dan masalah ke meja makan. Tubuh memang berada bersama, tetapi hati justru berjauhan.
Karena itu, makan bersama bukan hanya persoalan duduk dan menikmati makanan. Makan bersama seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun kasih, mengungkapkan syukur, dan memperhatikan satu sama lain.
Saudara-saudari, Dalam bacaan kita, Paulus berbicara kepada jemaat di Korintus. Jemaat ini sebenarnya berkumpul untuk beribadah dan merayakan Perjamuan Tuhan. Seharusnya pertemuan itu menjadi tanda kesatuan, kasih, dan persaudaraan di dalam Kristus. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Paulus berkata dalam ayat 21: “Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk.”
Bayangkan keadaan tersebut. Mereka berkumpul dalam satu tempat, tetapi tidak benar-benar hidup sebagai satu tubuh. Ada yang makan berlebihan sampai mabuk, sementara ada saudara yang tidak mendapatkan makanan dan tetap lapar.
Ini merupakan persoalan yang serius. Mengapa? Karena mereka sedang merayakan perjamuan yang seharusnya mengingatkan mereka pada kasih dan pengorbanan Kristus, tetapi perilaku mereka justru menunjukkan egoisme dan ketidakpedulian.
