1 Korintus 7:22-23
Hamba Tuhan.
Pikiran manusia hanya mampu fokus pada topik, pemandangan, berita yang sesuai dengan tujuan, hasrat, dan minatnya. lnformasi atau data yang tidak relevan otomatis akan terabaikan. Demikianlah cara otak kita bekerja. Tidak heran jika kita secara tidak sadar menjadi 'hamba' dari keinginan dan tujuan kita. Seolah-olah itulah yang terpenting.
Ucapan Rasul Paulus pada bacaan kita saat ini mengingatkan, bahwa siapapun dan apapun jabatan dan status sosial serta identitasnya, kalau orang tersebut adalah pengikut Kristus maka ia adalah hamba Allah. Sebagai orang yang beriman kita adalah hamba milik Tuhan.
Dalam kehidupan sosial seorang hamba hidup hanya untuk melakukan perintah tuannya. ltulah sebabnya para budak penuh rasa frustrasi. Tidak ada kebebasan dan masa depan. Sahabat Teruna, secara alamiah kita memang diciptakan hanya bisa terfokus dan terdorong oleh hasrat dan tujuan. Berhati-hatilah, karena hal tersebut dapat 'memperbudak' kita. Membuat kita berpikir kalau keinginan dan tujuan itu yang paling baik dan tepat, sehingga jika tidak tercapai kita yakin gagal dan tidak akan bahagia.
Sobat Teruna, solusinya persoalan demikian sebenarnya sederhana. Ubah fokus dan perluas wawasan. Di sinilah peran iman. Alihkan fokus dari pikiran dan hasrat kita, kepada firman dan cinta Tuhan. Temukan harapan dalam Dia. Kontras dengan perhambaan di dunia, perhambaan di dalam Kristus justru memerdekakan (Gal. 5:1 ), sebab tujuan dan kehendak-Nya bagi kita adalah semata-mata hanya untuk kebaikan. la melihat dan memahami masa lalu, masa kini dan masa depan kita. Oleh karena itu, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya kita butuhkan, apa yang harus kita prioritaskan, dan jalan mana yang harus kita tempuh.
Doa: Tuhan Yesus, tuntunlah langkahku. Bawalah hidupku kemana Engkau kehendaki. Amin
Editor : Alfianne Lumantow