Pembacaan Alkitab : Kolose 1: 19-20
TEMA : BERDAMAI DENGAN BUMI
"dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah la mengadakan pendamaian dengan darah salib Kristus" (ay.20)
Pemahkah kita merenung, mengapa bumi seakan 'berteriak"? Lingkungan kita banjir dan longsor, hutan terbakar, udara pun tercemar Bumi seakan menunjukkan 'lukanya'.
Inilah peringatan keras bagi kita untuk meminta maaf, bahkan berdamai dengan lingkungan sekitar kita. Kita tak lagi bisa semena-mena terhadap lingkungan ini.
Kita tak lagi boleh sesuka hati merusak alam ini. Kita seharusnya hidup di dalam damai bersama seluruh ciptaan Tuhan. Hal ini juga yang dikehendaki Paulus bagi jemaat di Kolose.
Paulus menyatakan bahwa Allah mendamaikan segala sesuatu, termasuk ciptaan, melalui darah salib Kristus.
Ini berarti, pendamaian Kristus bersifat menyeluruh, bukan hanya untuk manusia, tapi bagi seluruh ciptaan-Nya.
Kita tak lagi bisa memisahkan iman dengan kehidupan praktis kita sehari-hari. Kita beribadah memuji Tuhan Pencipta di hari Minggu.
Namun di hari lainnya kita berbuat sewenang-wenang dengan ciptaan-Nya. Kita berdoa agar kita diselamatkan, tetapi membiarkan hutan dan laut tidak selamat.
Padahal, salib Kristus memanggil kita untuk berdamai, bukan sekadar atas pelanggaran kita kepada Tuhan, tetapi juga kesalahan kita kepada ciptaan-Nya yang lain.
Pendamaian ini menuntut aksi nyata. Kita diajak untuk turut serta dalam karya pendamaian Kristus.
Kita dituntut hidup secukupnya sambil menyadari dampak dari setiap perlakuan kita terhadap alam.
Pakailah listrik dan air seperlunya. Ambil dan makanlah secukupnya. Gunakan energi dengan bijak.
Tindakan ini mungkin terasa kecil, tapi bila dilakukan bersama-sama di dalam kasih, akan menjadi bagian dari pendamaian ilahi yang besar.
Salib Kristus bukan hanya lambang pendamaian pribadi, tetapi juga pemulihan bagi seluruh ciptaan.
Udara ingin kembali bersih, sungai ingin kembali jernih. Mari kita berdamai dengan bumi. Amin.
Doa: Bapa di Surga, kami rindu berdamai dengan sesama kami, lingkungan yang juga Engkau ciptakan ini. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow