Pembacaan Alkitab : Markus 9:19
TEMA : YESUS TETAP MENUNGGUMU
"Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hai generasi yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu kepada-Ku" (ay.19)
Tuhan Yesus menyampaikan kritik yang penting kepada murid- murid-Nya dan sekaligus memakai kisah ayah yang begitu mengasihi anaknya dengan tepat, untuk menunjukkan bahwa iman itu haruslah hidup.
Jika orang melihat mujizat atau karya luar biasa Yesus, apakah ia melekat pada hasilnya atau makin beriman kepada -Nya?
Ini adalah pertanyaan yang mendalam kepada murid-Nya dulu dan sekarang! Orang awalnya hanya mampu melihat indikator luar, Yesus berkarya luar biasa di masyarakat, hal itu baik.
Tetapi bisa saja orang baru sampai pada tampilan luar. Gejala ini bisa terjadi, orang hanya show off, suka pamer kehebatan.
Ketika kita berdiskusi dengan orang yang berkepercayaan lain, bisa saja kita hanya sampai pada hasilnya, tidak peduli apakah beriman kepada Yesus atau tidak.
Contoh lain, pelayanan gereja hanya pada hal-hal yang nampaknya hebat tetapi mengabaikan pelayanan diakonia, untuk orang miskin yang tidak populer.
Melalui kisah dan perenungan ini, kita dituntun untuk memiliki iman yang hidup. Kita akan melanjukan perenungan "hal ketiga, iman ayah itu rapuh dan terbuka" (lihat catatan SBU Senin Sore, tanggal 2 Maret 2025).
Tuhan Yesus memperlihatkan proses seorang ayah ini, walaupun lemah, rapuh tetapi terbuka sehingga "nampak hidup".
Inilah pesan bagi kita dan hendaknya terjadi. Yesus berkata: "Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu?". Dia menunggu; tetaplah berproses.
Di era teknologi yang makin canggih, kita juga bisa terjebak pada kemampuan manusia dan teknologi yang nampaknya ok banget.
Namun, iman yang sejati adalah iman yang terbuka, rapuh tetapi mau terus berproses bersama Yesus.
Percayalah, Tuhan dapat mempergunakan segala sesuatu untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya. Amin.
Doa: Ya Tuhan, ajarkan kepada kami untuk percaya akan kuasa kesembuhan daripada-Mu, di tengah dunia yang mengandalkan teknologi kesehatan. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow