
JagoSatu.com- Siklus menstruasi yang bergeser dari rentang normal 21-35 hari kerap dikaitkan otomatis dengan kehamilan, padahal penyebabnya bisa jauh lebih beragam. Gangguan hormon akibat stres, tiroid, hingga sindrom ovarium polikistik atau PCOS menjadi sejumlah faktor yang membuat datang bulan tidak teratur, menurut sejumlah studi medis internasional.
Menurut Cleveland Clinic, siklus menstruasi disebut tidak teratur apabila jaraknya kurang dari 21 hari atau lebih dari 35 hari, disertai perdarahan yang berlangsung lebih dari tujuh hari, atau ketika seseorang tidak mendapat haid selama tiga kali berturut-turut. Definisi ini penting sebagai acuan awal sebelum mengaitkan keterlambatan haid dengan kemungkinan kehamilan atau gangguan medis lain.
Tingkat stres yang tinggi menjadi salah satu penyebab datang bulan tidak teratur yang paling sering ditemukan pada wanita usia produktif. Studi yang dipublikasikan di Journal of Women's Health pada 2022 oleh tim peneliti Northwestern University mensurvei 210 wanita usia subur selama awal pandemi COVID-19, dan menemukan 54 persen di antaranya mengalami perubahan pada siklus haid mereka.
Peneliti dalam studi itu menjelaskan, wanita dengan tingkat stres tinggi selama pandemi memiliki peluang sekitar dua kali lipat mengalami perubahan durasi menstruasi dibandingkan mereka yang tingkat stresnya berada di level sedang. Secara fisiologis, stres kronis memicu pelepasan hormon kortisol secara berlebihan, yang kemudian ikut memengaruhi kerja hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron sehingga siklus haid menjadi tidak stabil.
Gangguan pada kelenjar tiroid turut menjadi penyebab signifikan datang bulan tidak teratur, menurut penjelasan Office on Women's Health di Amerika Serikat. Baik hipotiroidisme atau kondisi ketika tiroid kurang aktif, maupun hipertiroidisme atau kondisi tiroid terlalu aktif, sama-sama dapat mengganggu keseimbangan hormon yang berperan penting dalam proses ovulasi.
Pada kondisi hipotiroidisme, penurunan hormon tiroid memicu tubuh memproduksi lebih banyak hormon prolaktin yang justru menghambat ovulasi, sehingga menstruasi menjadi jarang datang atau disebut oligomenorea. Sebaliknya, hipertiroidisme cenderung membuat periode haid menjadi lebih ringan, tidak teratur, bahkan bisa berhenti sama sekali apabila kondisi tidak segera ditangani secara medis.
Sindrom ovarium polikistik atau PCOS juga kerap menjadi penyebab datang bulan tidak teratur, terutama pada wanita usia reproduksi. Menurut National Institute of Child Health and Human Development atau NICHD di Amerika Serikat, PCOS ditandai oleh ketiadaan ovulasi yang teratur akibat ketidakseimbangan hormon androgen, sehingga periode menstruasi menjadi jarang atau bahkan tidak muncul sama sekali dalam waktu lama.
Prevalensi PCOS diperkirakan berkisar antara 4 hingga 20 persen dari populasi wanita usia reproduksi secara global, berdasarkan tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal kesehatan reproduksi internasional. Selain menyebabkan siklus haid tidak teratur, kondisi ini juga kerap disertai gejala lain seperti pertumbuhan rambut berlebih di wajah dan tubuh serta jerawat akibat kadar hormon androgen yang tinggi.
Penggunaan alat kontrasepsi hormonal, seperti pil KB maupun IUD atau spiral, juga dapat memicu perubahan pola menstruasi pada sebagian penggunanya. Hormon sintetis dalam alat kontrasepsi ini bekerja mengubah keseimbangan hormon alami tubuh, sehingga tidak jarang menimbulkan flek di luar jadwal haid biasa maupun perubahan volume darah yang keluar setiap siklus.
Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron turut berkontribusi terhadap siklus haid yang tidak teratur, khususnya pada dua kelompok usia tertentu. Menurut Mayo Clinic, wanita yang mendekati masa menopause kerap mengalami perubahan siklus akibat proses penuaan reproduksi alami, sementara pada remaja yang baru mengalami menstruasi, ketidakteraturan umumnya terjadi karena sistem hormon reproduksinya belum sepenuhnya matang dan biasanya membaik seiring bertambahnya usia.



