Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

In Memoriam Bu Tahanusang, Tak Pernah Pensiun

Tina Mamangkey • 2023-07-22 11:59:47
Bu Tahanusang/Tamaka Kakunsi (Foto: Facebook/Merzi Kakunsi)
Bu Tahanusang/Tamaka Kakunsi (Foto: Facebook/Merzi Kakunsi)

JAGOSATU.COM - ‘’Itu kursi dan meja kerja saya, geser ngana!’’ Suara melengking dengan raut wajah seperti hendak marah, nanar menatap saya.

Bergegas saya berdiri dan menyilakan si pemilik suara itu duduk.

Anehnya, setelah duduk dan mengeluarkan disket, ia tertawa lepas.

‘’Sapa ngana pe nama heeii..?’’ Ia memutar kursi lalu menatap saya yang berdiri terpaku.

‘’Baru sok satu kali so ilang begal.

Bagemana ngana mo mangada sumber berita kalo panta putih bagitu?’’ Ia seperti mengejek kesalahtingkaanku.

Kejadian ini kira-kira akhir 1995. Ketika saya masih berstatus sebagai wartawan training dengan kode tr-1.

Awal mula mengenal Bu Tahanusang, sejatinya bukan di tempat kerja.

Saya sudah acap bersua dirinya di café-café dan klub malam, ketika ia manggung bersama konco-konconya, pelawak dan artis Sulut.

Kala itu sambil kuliah saya nyambi sebagai ngamen jadi pemetik gitar rytem dan akustik untuk menemani pemain kibor tunggal yang mulai menggeser home band.

Sekadar kenal, belum akrab. Sampai kemudian saya bergabung di Manado Post 1995.

Di situlah baru tahu Bu Tahanusang adalah wartawan. Ia menjabat sebagai Kepala Biro Sangihe dan Kepulauan.

Juga penggemar pos liputan hukum dan kriminal. Pemilik nama asli Tamaka Kakunsi ini bukan sosok seperti yang saya lihat di panggung café-café itu, yang selalu mengocok perut pengunjung.

Di kantor ia serius. Super serius malah. Wajahnya tak pernah senyum bila sedang mengetik berita. Meski tugas di Tahuna, sesekali ia balik Manado dan ngantor di Rike.

Sebagai wartawan baru saya sempat kaget ketika tahu orang ini wartawan juga. Sudah senior pula. Ia bergabung di Manado Post jauh sebelum koran ini diakuisisi Jawa Pos Grup.

Siang kemarin saya kaget mendengar ia wafat. Kira-kira sebulan silam masih sempat bersua di Jalan Roda (Jarod).

Ngopi, sedikit bercengkerama sambil mengenang masa-masa dulu saat kami masih kerja dalam satu kantor. Ia sempat memberi pesan kala saya harus balik kantor, ‘’Jaga kesehatan.

Lia pa kita, so saki-saki. Mar so bagitu, so umur 70 tahun.’’ Pesan menyentuh yang ternyata juga pesan perpisahan selamanya.

Ia wafat dalam usia 72 tahun. Pria kelahiran Singkil Manado, 27 Juni 1951 ini barusan merayakan ulang tahun ke-72 bulan lalu.

Ia meninggalkan seorang istri, Lilian Mananeke. Bu Tahanusang meninggal di RSUP Prof Dr RD Kandouw Malalayang Manado pukul 09.30 Wita karena sakit.

Ia dikarunia dua orang anak. Stenly Eskolano Kakunsi dan Steven O Kakunsi. Putra sulungnya Stenly yang akrab dipanggil Eskol saat ini menjabat Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Eskol pernah meneruskan jejak sang ayah sebagai wartawan Manado Post. Ia memang diberi prioritas.

Bukan saja karena jasa-jasa almarhum ayahnya, tapi Eskol memiliki skil mumpuni sebagai jurnalis.

Itulah sebabnya, ia dipercaya sebagai Kepala Biro Bolsel. Eskol hanya beberapa tahun berkarir sebagai wartawan.

Ia kemudian terjun sebagai penyelenggara Pemilu. Menjadi komisioner KPU Bolsel, sudah masuk dua periode.

Saya mengontak Eskol kemarin sore. Ia sedang dalam perjalanan menuju Manado. ‘’Papa akan dikebumikan hari Minggu,’’ katanya.

Bu Tahanusang lebih dikenal sebagai artis pelawak Sulut. Kiprahnya sebagai wartawan dihabiskan di markas Tikala hingga di Rike.

Sampai ia pensiun awal 2000-an. Saat pensiun di usia 50 tahun, Bu Tahanusang kami lepas di salah satu hotel di kawasan Tongkaina.

Diacarakan. Lalu dicebur dalam kolam. Sebelum diceburkan, ia sudah mencebur duluan. Takut dibopong lalu dicebur berjamaah.

‘’Saya habiskan waktu berkarir sebagai wartawan sambil melawak dari panggung ke panggung berkat Manado Post.

Setelah pensiun, saya akan lebih fokus menjalani profesi sebagai pelawak,’’ katanya dalam sambutan perpisahan.

Bu Tahanusang lebih dikenal karena aksi kocaknya dengan aksen Nusa Utara di layar kaca TVRI Manado. Sedari era 70-80an hingga akhir hayatnya. ‘’Pelawak itu tak ada kata pensiun.’’

Suatu ketika ia meminta dipindahtugaskan ke Manado. Itu jelang pensiun. ‘’Ngoni somo kase abis kita pe badan di atas kapal kalo ngoni tahan trus di Taruna (Tahuna acap ia sebut Taruna).’’ Ia nyeletuk dengan nada serius tapi tetap mengundang gelak tawa teman-teman.

Mungkin tak banyak generasi wartawan sekarang yang tahu, Bu Tahanusang adalah wartawan senior.

Bahkan nama aslinya jarang dikenal publik. Karena ia memang lebih ngetop dengan profesi sebagai pelawak papan atas Sulut dan nama panggung.

Sekali waktu, pada proses Pemilihan Kepala Daerah di (waktu itu) kabupaten Sangihe Talaud, ia mengajak saya ke Tahuna.

Naik kapal Barcelona. Perjalan semalam di kamar eksekutif. Tempat tidurnya lumayan empuk.

Tapi goyangan kapal sulit membuat mata saya terpejam. Maklum, saat itu laut Sulawesi sedang berombak.

‘’Supaya bos rasa le bagemana torang bolak balek Taruna-Manado. Bagini no depe siksa.

Mar kalo orang Sanger justru ni ombak yang beking hidop. Kalo nda ba ombak, nda baasap dapur.’’ Ia berkicau di kamar sambil tertawa.

Mungkin Bu merasa saya sedang panik gegara goncangan ombak.

‘’Saya kecilnya hidup di pantai Selatan Bolmong Bu. Dulu belum ada jalan tembus. Jikapun ada cuma jalan roda.

Dari pelosok timur ke arah Molibagu, harus naik perahu.’’ Tahu saya juga anak laut, ia berhenti meledek.

‘’Sama-sama hidop deng gorango kote’. Pantas biar ombak goyang cuma asik tidor. So salah se tako orang.’’ Celetukkan menghibur teman-teman lain, yang ternyata mabuk laut.

Kebersamaan dengan Bu Tahanusang di kantor Rike memang tidak terlalu lama. Hanya sekira 10 tahun.

Tapi, di situ saya belajar banyak darinya bagaimana menikmati hidup sebagai wartawan dan artis pelawak.

‘’Puji Tuhan, Alhamdulillah, boleh kase skolah anak, boleh beking rumah deng boleh kase hidop bini.

Tuhan baik.’’ Saya jarang melihat Bu terlibat dalam kegiatan gereja. Tapi sejatinya ia aktif dalam kepengurusan gereja.

Karena baginya ibadah itu urusan pribadi dengan Yang Maha Kuasa. Saya pun tahu ia rajin beribadah dan berdoa.

Setiap memulai aktivitas, selalu diawali dengan doa. ‘’Nyanda bakusedu ini. Torang bajalan ni malam, ba ombak, berdoa dulu.

Kita minta Korlip pimpin doa.’’ Ia mendapuk saya membaca doa sebelum naik kapal ke Tahuna.

Salah satu kelebihannya pula, meski seorang pelawak, ia kerap ditodong teman-teman ketika memulai rapat atau satu kegiatan di kantor. Tak ada yang tertawa. Doanya pun lumayan panjang.

Selain garang terhadap junior yang malas, ia memasang wajah serius saban ngantor. Di awal gabung di Rike, saya tak berani mengajaknya guyon.

Kecuali ketika para senior sedang bercengkerama. Antara lain Jackried Kanselir Maluenseng, Jimmy Senduk, Tauhid Arief, Adri Mamangkey, Nicolaus Paath, Leonardo Axsel Galatang, Ismit Alkatiri, Raramenusa Makagiansar, termasuk Hamim Pou dan Suhendro Boroma yang menjabat Pemimpin Redaksi.

Bu Tahanusang salah satu perintis berdirinya Manado Post hingga seperti sekarang ini. Kendati sudah pensiun, sesekali ia muncul di kantor dan berlagak seperti owner.

Meledek kami yang masih tekun mengejar deadline, rapat budget dan tentu saja mengelola manajemen perusahaan.

Karena sama-sama hidup dan merasakan suasana Jarod, mungkin saya masih lebih sering bersua dengannya.

Kendati tidak lagi seintens dulu. Terakhir mungkin bulan lalu itu. Saat kondisi fisiknya kutengok mulai menurun.

Aktivitasnya di panggung hiburan pun mulai berkurang seiring kondisi kesehatannya tak lagi mendukung.

Tentu saja kami kehilangan. Meski ia sudah lama meninggalkan kantor karena pensiun, jasa-jasanya tetap tak mungkin terhapus.

Ia tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan koran ini, dulu, sekarang dan masa akan datang.

Kawan, jasadmu boleh pergi meninggalkan dunia fana ini, tapi karyamu sebagai jurnalis, dan juga seorang entertainment akan selalu dikenang sepanjang masa.

Dalam pandangan saya, mungkin pula Anda, ia termasuk salah satu legenda dunia hiburan Sulut.

Selamat Jalan Bu Tahanusang. Doa kami di nadimu. Tuhan menjemputmu di pintu Surga. Amin.*

Editor : Tina Mamangkey
#wartawan #pelawak #Manado #tamaka kakunsi #Bu Tahanusang #Manado Post