Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tak Aman karena Tanah Gerak, Warga Kota Semarang Bongkar Rumah

P
Warga berdiri di reruntuhan rumah terdampak longsor di Desa Kajen, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kemarin (11/2).
Warga berdiri di reruntuhan rumah terdampak longsor di Desa Kajen, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kemarin (11/2).

SEMARANG – Di Kampung Sekip Sapta Marga III RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kota Semarang, yang terdampak tanah gerak, garis retakan tanah masih tampak menganga membelah halaman dan badan jalan. 


Advertisement

Lebarnya di beberapa titik mencapai sekitar lima meter. Slamet Riyadi, 47, menjadi salah satu warga yang memilih membongkar sendiri rumahnya lebih dulu. Padahal, di rumah berukuran sekitar 4×10 meter itulah dia dilahirkan dan telah ia tempati bersama istri dan dua anaknya.

Keputusan itu diambil setelah hujan deras mengguyur sejak Selasa (10/2) sore hingga Rabu (11/2) dini hari dan kondisi bangunan kian mengkhawatirkan. Keramik lantai menggelembung, plafon melendut, sementara kayu penyangga mulai terlepas.

"Semalam listrik sempat mati dua kali, air juga putus. Rumah bunyinya pletok-pletok, jelas tanahnya gerak," ujarnya kepada Radar Semarang Grup Jawa Pos kemarin (11/2).

Advertisement

Selain di Kota Semarang, bencana tanah gerak di Jawa Tengah juga terjadi di Kabupaten Tegal, persisnya di Desa Padasari Kecamatan Jatinegara. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, hingga saat ini tercatat ada 900 rumah rusak dan terdampak tanah gerak masuk dalam daftar relokasi. Terbanyak di Kabupaten Tegal, disusul Purbalingga, Pemalang, dan Batang.

 

Advertisement

 

Gotong Royong

Di Kampung Sekip Sapta Marga, warga bergotong royong membongkar rumah mereka sendiri. Sejumlah material bangunan ditumpuk rapi di tepi kampung dan diamankan untuk kemungkinan dipakai kembali jika relokasi benar-benar terjadi.

Saran dari BPBD Kota Semarang yang menyebut bangunan tak lagi layak huni membuat warga mantap membongkar rumah secara mandiri. Menurut Slamet, Selasa (10/2) malam adalah suasana paling mencekam saat kandang ternak yang baru dibangun tiba-tiba ambruk.

Sekitar 20 kambing dievakuasi ke kandang milik saudaranya di sisi barat kampung. Sejak itu, Slamet dan keluarga lebih sering bermalam di musala atau rumah kerabat. Kerugian yang dialaminya ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. "Kalau soal rumah bisa dicari lagi. Yang penting keluarga selamat dulu," katanya.

Kondisi serupa juga dialami beberapa tetangganya. Dalam sepekan terakhir, bunyi retakan kerap terdengar seusai hujan turun. Warga menyebut pergerakan tanah paling terasa pada malam hari sehingga membuat banyak kepala keluarga memilih berjaga daripada tidur nyenyak di rumah masing-masing. Ketua RT 07 RW 01 Jangli Joko Sukaryono menjelaskan, kerja bakti pembongkaran dilakukan untuk mencegah risiko roboh mendadak sekaligus menyelamatkan material bangunan warga.

Hingga kemarin siang, tercatat 15 rumah terdampak pergerakan tanah. "Kalau hujan turun pasti ada pergerakan. Makanya tiap malam kami adakan ronda dan jam malam untuk jaga-jaga," ujarnya.

Bantuan sembako dari BPBD sudah diterima meski belum rutin. Di sisi lain, jaringan listrik, air, dan internet sempat terputus dan masih dalam proses pembenahan. Warga berharap bisa direlokasi ke tempat yang lebih aman, namun masih di sekitar kawasan yang sama. Sebab, sebagian besar telah tinggal turun-temurun di wilayah tersebut. "Kami tidak menuntut macam-macam. Yang penting aman dan jelas tempatnya," kata Slamet. (fgr/ttg/jawa pos)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani tebu menuntut harga pokok penjualan (HPP) gula naik. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak HPP segera dinaikkan menjadi Rp 16.875 per kilogram di tengah anjloknya harga

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Penanganan kasus dugaan rudapaksa terhadap anak perempuan di bawah umur yang melibatkan 27 terduga pelaku di Sampang masih berlangsung. Dari 10 tersangka yang telah diamankan, enam di antaranya sudah disidang....

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Musim kemarau panjang sudah melanda Indonesia. Di banyak daerah, hujan sudah beberapa pekan belum mengguyur. Pemerintah memberikan perhatian ke sektor pertanian supaya tetap bisa produksi. Caranya dengan menyiapkan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer