Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengusaha Tambang Minta Tingkatkan Produksi, Manfaatkan Momentum Kenaikan Harga Akibat Konflik Timur Tengah

P

Tambang emas bawah tanah Pongkor milik PT Aneka Tambang Tbk yang memiliki cadangan sekitar 5 ton di Bogor. Lonjakan harga komoditas membuka peluang bagi sektor pertambangan untuk menggenjot kinerja.
Tambang emas bawah tanah Pongkor milik PT Aneka Tambang Tbk yang memiliki cadangan sekitar 5 ton di Bogor. Lonjakan harga komoditas membuka peluang bagi sektor pertambangan untuk menggenjot kinerja.


Advertisement

JAKARTA – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah membawa dua sisi bagi perekonomian Indonesia. Di satu sisi, tekanan terhadap harga energi dan biaya logistik global meningkat. Namun di sisi lain, lonjakan harga komoditas membuka peluang bagi sektor pertambangan untuk mendorong kinerja ekspor.

 

Pemerintah Pangkas RKAB

Oleh karena itu, pelaku usaha pertambangan mendorong pemerintah memberikan keleluasaan untuk meningkatkan produksi maupun ekspor. Sebelumnya, pemerintah memangkas rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) sektor mineral dan batu bara pada 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar sehingga stabilitas harga komoditas tetap terjaga.

 

Tambah Pemasukan Negara

Sekretaris Jenderal Indonesia Mining Association (IMA) Tony Wenas mengatakan, meningkatnya harga komoditas tambang dipicu oleh kenaikan permintaan global di tengah ketidakpastian geopolitik.

Advertisement

"Tentu saja bukan hanya batu bara. Komoditas tambang lain juga ikut naik. Ketika harga meningkat, artinya permintaan juga lebih besar," ujarnya.

Menurut Tony, momentum tersebut perlu direspons dengan kebijakan yang memberi ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produksi maupun ekspor. "Timing-nya sebenarnya tepat. Jika diberi keleluasaan meningkatkan produksi atau ekspor, dampaknya bisa menambah pemasukan negara," katanya.

Meskipun demikian, dia mengingatkan konflik di Timur Tengah tetap membawa risiko jangka panjang terhadap stabilitas pasokan energi global.

Advertisement

 

 

Risiko Energi

Sementara itu, Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan konflik di kawasan tersebut, terutama terkait jalur distribusi energi global.

"Selat Hormuz yang menjadi salah satu arteri utama perdagangan energi dunia," ujarnya.

Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang lebih dari 30 persen produksi minyak global. Sekitar 20–30 persen perdagangan minyak dunia juga melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan biaya logistik global.

Meskipun Indonesia tidak secara langsung mengimpor minyak dari kawasan tersebut, dampaknya tetap terasa melalui negara perantara seperti Singapura dan Malaysia yang memasok sekitar 75 persen kebutuhan impor minyak nasional.

 

Peluang Jangka Pendek

Selain itu, kenaikan harga energi juga berpotensi menekan aktivitas industri di negara mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.

Meskipun demikian, situasi ini juga membuka peluang bagi Indonesia. Lonjakan harga energi biasanya turut mendorong kenaikan harga komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO).

"Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi," papar Rini. (agf/dio/jawa pos)

 

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani tebu menuntut harga pokok penjualan (HPP) gula naik. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak HPP segera dinaikkan menjadi Rp 16.875 per kilogram di tengah anjloknya harga

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Penanganan kasus dugaan rudapaksa terhadap anak perempuan di bawah umur yang melibatkan 27 terduga pelaku di Sampang masih berlangsung. Dari 10 tersangka yang telah diamankan, enam di antaranya sudah disidang....

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Musim kemarau panjang sudah melanda Indonesia. Di banyak daerah, hujan sudah beberapa pekan belum mengguyur. Pemerintah memberikan perhatian ke sektor pertanian supaya tetap bisa produksi. Caranya dengan menyiapkan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer