
SEJAK tensi ketegangan di Lebanon meningkat, izin dari keluarga besar Praka Farizal Rhomadhon di tanah air sebenarnya sudah resah. Namun, prajurit yang sehari-hari bertugas di Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) Bireuen, Aceh, itu selalu berusaha menenangkan.
"Beliau sering meyakinkan istrinya yang selalu khawatir. Dia hanya mohon didoakan supaya bisa kembali dengan selamat," ungkap Moh. Fitra Abdul Aziz, kakak ipar Farizal, kepada Jawa Pos yang mewawancarainya lewat telepon dari Jakarta kemarin (31/3).
Fitra adalah kakak kandung Fafa Nur Azila, istri Farizal. Pasangan muda itu dikaruniai putri berusia dua tahun, Shanaya. Selama Farizal bertugas di Lebanon sejak tahun lalu, keduanya tetap tinggal di asrama militer yang selama ini mereka tempati di Bireuen.
Tentara 28 tahun yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) itu berasal dari Gunungkidul, Jogjakarta. Sementara itu, sang istri yang tiga tahun lebih muda kelahiran Kebumen, Jawa Tengah. "Dengan anak istrinya setiap hari dan setiap ada waktu luang pasti video call," tutur Fitra.
Apa yang menjadi kekhawatiran istri dan keluarga itu berubah menjadi kabar duka pada Minggu (29/3). Farizal gugur setelah terkena serpihan proyektil yang ditembakkan Israel ke kawasan Adchit al-Qusayr, Lebanon Selatan, tempat kontingen UNIFIL bertugas.
Kemarin, kedukaan mendalam serupa juga dirasakan keluarga besar Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Kedua personel Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S UNIFIL itu juga gugur setelah kendaraan tugas yang mereka naiki meledak di Bani Haiyyan, Lebanon Selatan. Dua prajurit lainnya di kendaraan yang sama, Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto luka berat.



