Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kemenko Pangan-Kemenhaj Kirim Tiga Juta Porsi Makanan Siap Santap Untuk Jemaah Haji

P
RAPAT KOORDINASI: Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kiri) bersama Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf (tengah) ingin memberikan pelayanan terbaik untuk jemaah haji Indonesia.
RAPAT KOORDINASI: Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kiri) bersama Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf (tengah) ingin memberikan pelayanan terbaik untuk jemaah haji Indonesia.

Advertisement

 

JAKARTA - Pemerintah Indonesia berhasil menembus regulasi pengiriman makanan siap santap (ready to eat) untuk jemaah haji. Proses memasaknya dilakukan sepenuhnya di tanah air. Setibanya di Saudi, makanan tersebut hanya diedarkan secara terbatas untuk jemaah Indonesia.

Skema tersebut dibahas dalam rapat yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta kemarin (21/4). Rapat tersebut juga dihadiri Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochammad Irfan Yusuf. Zulkifli menyambut baik rencana pengiriman makanan siap santap tersebut.

Advertisement

Pria yang akrab disapa Zulhas itu mengatakan, seharusnya perizinan pengiriman makanan tersebut tidak sulit. "Karena setibanya di Saudi, hanya untuk dikonsumsi jemaah Indonesia. Tidak dipasarkan atau diedarkan secara luas," katanya.

Sehingga, lanjut Zulhas, seharusnya tidak harus melewati perizinan badan pengawas makanan Arab Saudi secara ketat, layaknya produk makanan pada umumnya. Produk yang dikirim nanti cukup mengantongi izin keamanan pangan dari BPOM serta sertifikat halal dari BPJPH. Zulhas kembali menegaskan meskipun Kemenhaj perdana menyelenggarakan haji secara penuh, sudah banyak inovasi yang dibuat.

Advertisement

"Makanan (siap santap) hanya untuk dikonsumsi jemaah Indonesia. Tidak dipasarkan atau diedarkan secara luas."

Zulkifli Hasan Menko Bidang Pangan

Sementara itu, Menhaj Mochammad Irfan Yusuf mengatakan tahun ini rencananya ada 3 juta porsi makanan siap santap yang dikirim ke Saudi. Makanan siap santap ini dikhususkan pada saat masa Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Karena pada masa tersebut, lalu lintas di Makkah sangat padat sehingga tidak memungkinkan distribusi katering dari dapur mitra Kemenhaj di sana.

"Ada hari-hari menggunakan makanan RTE (ready to eat). Tetapi mayoritas menggunakan masakan dari dapur," katanya. Dia menekankan makanan RTE tersebut didistribusikan pada enam hari masa Armuzna sehingga tidak ada kekhawatiran keterlambatan pengiriman makanan akibat kepadatan lalu lintas di Makkah.

Dia menegaskan makanan siap santap itu sudah tiba di Saudi dan nantinya tinggal dihangatkan saja. "Makanan RTE ini juga aman untuk konsumsi jemaah lansia," jelasnya. Dengan skema ini, industri di tanah air bisa ikut merasakan perputaran uang penyelenggaraan haji dari sektor katering. (wan/ali)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani tebu menuntut harga pokok penjualan (HPP) gula naik. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak HPP segera dinaikkan menjadi Rp 16.875 per kilogram di tengah anjloknya harga

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Penanganan kasus dugaan rudapaksa terhadap anak perempuan di bawah umur yang melibatkan 27 terduga pelaku di Sampang masih berlangsung. Dari 10 tersangka yang telah diamankan, enam di antaranya sudah disidang....

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Musim kemarau panjang sudah melanda Indonesia. Di banyak daerah, hujan sudah beberapa pekan belum mengguyur. Pemerintah memberikan perhatian ke sektor pertanian supaya tetap bisa produksi. Caranya dengan menyiapkan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer