Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Konsumsi Masih Topang Pertumbuhan Ekonomi

P
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan keuangan negara pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta kemarin (5/5). Pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun, sedangkan realisasi belanja mencapai Rp 815 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan keuangan negara pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta kemarin (5/5). Pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun, sedangkan realisasi belanja mencapai Rp 815 triliun.

Advertisement

 

JAKARTA – Kinerja ekonomi nasional menunjukkan akselerasi pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (YoY). Angka itu meningkat dari 4,87 persen pada periode yang sama tahun lalu. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, pertumbuhan ini ditopang kuatnya konsumsi domestik serta kinerja industri pengolahan. "Ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen secara year on year," ujarnya, kemarin (5/5).

Sisi Lapangan Usaha

Advertisement

Dari sisi lapangan usaha, mayoritas sektor tumbuh positif. Industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan andil 1,03 persen, ditopang permintaan domestik selama Ramadan dan Idul Fitri serta ekspor CPO dan turunannya. Sektor perdagangan tumbuh 6,26 persen, sementara pertanian naik 4,97 persen berkat panen raya dan meningkatnya permintaan pangan. Pertumbuhan tertinggi dicatat sektor akomodasi dan makan minum yang melonjak 13,14 persen, diikuti jasa lainnya 9,91 persen serta transportasi dan pergudangan 8,04 persen.

Segmen Pengeluaran

Advertisement

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi 54,36 persen terhadap PDB dan tumbuh 5,52 persen. Sedangkan investasi (PMTB) berkontribusi 28,29 persen. "Konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen, didorong belanja pegawai termasuk gaji ke-14 serta belanja barang dan jasa," imbuhnya. Secara wilayah, pertumbuhan jawa masih mendominasi dengan kontribusi 57,24 persen terhadap PDB, diikuti Sumatera 22,08 persen. Sementara pertumbuhan tertinggi tercatat di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen.

Keluar dari "Kutukan"

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai capaian kuartal I 2026 menjadi sinyal kuat akselerasi ekonomi. "Sudah terlihat kita mulai lepas dari 'kutukan' pertumbuhan 5 persen. Ekonomi bergerak lebih cepat," ujarnya. Meskipun demikian, dia mengingatkan tantangan global masih besar. Pemerintah akan menjaga momentum dengan memperkuat konsumsi domestik dan sektor industri. Sejumlah stimulus disiapkan, termasuk subsidi kendaraan listrik untuk mendorong konsumsi sekaligus mengurangi ketergantungan energi impor. Program ini ditargetkan berjalan mulai Juni 2026. "Sektor manufaktur seperti tekstil dan alas kaki akan didorong melalui pembiayaan murah untuk peremajaan mesin," imbuhnya. (mim/dio)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Iran Latih Warga Cara Gunakan Senapan AK-47

Iran Latih Warga Cara Gunakan Senapan AK-47

Sang pembawa acara di kanal televisi Ofogh itu mengarahkan senapan AK-47 ke atas dan langsung menarik pelatuk. Satu peluru hampa melesat. Satu tembakan lain diarahkan ke bendera Uni Emirat Arab, negeri yang tengah...

Rupiah Tembus Rp 17.500 Per Dolar AS, Pengusaha Semakin Tertekan

Rupiah Tembus Rp 17.500 Per Dolar AS, Pengusaha Semakin Tertekan

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat mulai menekan dunia usaha nasional. Kalangan industri menilai kondisi tersebut bukan sekadar gejolak sementara, melainkan bagian dari..

Diduga Keracunan MBG, 200 Siswa di Surabaya Alami Mual dan Pusing

Diduga Keracunan MBG, 200 Siswa di Surabaya Alami Mual dan Pusing

Sekitar 200 siswa dari 12 sekolah di Kelurahan Tembok Dukuh, Surabaya, Jawa Timur (Jatim) diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG) kemarin (11/5).  Mereka mual dan muntah hingga pusing setelah menyantap menu daging...

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer