Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Torsa Politik Hinca IP Pandjaitan: Match Fixing di Meja Makan

H
Penulis: Hairil Paputungan❯
Hinca IP Pandjaitan
Hinca IP Pandjaitan

Advertisement

 

JAGOSATU.COM - Purbaya itu orang yang susah diajak basa-basi. Saya kenal dia sudah cukup lama. Kalau dia bilang sebuah angka tidak masuk akal, biasanya memang tidak masuk akal. Dia bukan tipe yang bicara untuk menyenangkan orang. Maka waktu dia mulai ribut soal Badan Gizi Nasional, saya tidak menganggapnya angin lalu. Banyak orang waktu itu mengira dia cuma sedang berhitung soal penghematan. Pelit, kata sebagian. Mau cari panggung, kata yang lain. Saya membacanya berbeda. Saya kenal cara dia berpikir. Orang seperti Purbaya tidak akan repot-repot mempersoalkan sesuatu kalau hidungnya tidak lebih dulu mencium bau yang aneh. Dan bau itu, kini, sudah tercium oleh semua orang.

Tepat di tanggal 3 Juni 2026, kita semua dikejutkan dengan penahanan terhadap sebuah nama besar yang selama ini terus menjadi sorotan dan terkesan sulit tersentuh. Dadan Hindayana namanya. Dua anak buahnya yang paling dekat ikut di belakangnya, pakai rompi yang sama. Orang-orang heran lihat betapa cepatnya. Selasa malam dicopot Presiden. Keesokan paginya kantornya sudah digeledah. Belum sempat matahari terbenam, Dadan sudah pakai rompi tahanan. Cepat sekali.  Tapi saya tidak ikut heran. Yang kelihatan di depan kita memang cuma bagian akhirnya. Yang tidak kita lihat, jaksa-jaksa itu sudah mengendus sejak akhir Mei. Pelan-pelan. Diam-diam. Mengikuti ke mana uangnya pergi, sampai ketemu ujungnya. Inilah yang selalu ditekankan oleh Jaksa Agung. Work in Sillence.

Advertisement

Sekarang, apa sebenarnya yang mereka lakukan? Begini. Program Makan Bergizi Gratis itu jalannya lewat dapur-dapur. Namanya SPPG, satuan yang masak lalu mengantar makanan ke sekolah. Dapur-dapur ini dikelola yayasan. Negara bayar yayasan itu, yayasan yang memasak, anak-anak yang makan. Sederhana. Masalahnya, yayasan yang dipilih bukan yayasan sembarangan. Sebagian terhubung dengan orang dalam BGN sendiri.

 

Bahkan ada yang pemiliknya, ya, para tersangka itu. Jadi mereka yang menunjuk, mereka juga yang ditunjuk. Mereka yang membayar, mereka juga yang dibayar. Dan uangnya tidak sedikit. Yayasan-yayasan ini menerima miliaran setiap hari. Kalau dijumlahkan setahun, triliunan. Lalu masih ada urusan belanja-belanja yang tadi saya sebut. Motor listrik 21 ribu unit. Sepatu puluhan ribu pasang. Tablet, televisi 75 inci, dan masih banyak lagi. Semua, menurut penyidik Kejaksaan, dibeli dengan harga yang digelembungkan. Dan semua itu atas nama memberi makan anak sekolah.

Advertisement

Sampai di sini saya mau berhenti dulu. Sebab dari titik inilah orang paling gampang salah mengambil kesimpulan. Tiap kali skandal sebesar ini meledak, suara yang paling kencang biasanya itu-itu saja. Bubarkan BGN. Setop MBG. Sudah, tutup saja semuanya. Saya paham dari mana datangnya marah itu. Tapi izinkan saya menawarkan cara memandang yang agak lain.

 

Lewat sepak bola. Bayangkan ada satu pertandingan yang ternyata diatur. Ada pemain yang dibayar supaya kalah. Ada wasit yang sudah disetel jauh sebelum peluit pertama ditiup. Begitu semuanya ketahuan, apa yang kita kerjakan? Kita hukum pemainnya. Kita seret wasitnya. Kita kejar bandar yang mengatur semuanya sampai dapat. Tapi adakah orang yang lalu berteriak supaya sepak bola dihapus dari muka bumi?

Adakah yang menyuruh jutaan penonton pulang dan disuruh berhenti mencintai permainan itu? Tidak ada. Yang busuk cuma pertandingan itu. Sepak bolanya jalan terus besok pagi.

Advertisement

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer