Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kelas Menengah Terjun ke Rentan Miskin

P
MAKIN MAHAL: Petugas melayani pengemudi ojek online di SPBU Pertamina, Menteng, Jakarta, kemarin (10/6). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
MAKIN MAHAL: Petugas melayani pengemudi ojek online di SPBU Pertamina, Menteng, Jakarta, kemarin (10/6). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Advertisement

 BIASANYA, dengan Rp 100 ribu, Pertamax di mobil pribadi Sandi Prasetyo bisa bertahan selama tiga hari. Dia menggunakannya untuk transportasi dari tempat tinggalnya di Kota Probolinggo ke Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Namun, dengan kenaikan harga Pertamax sebesar Rp 3.950 menjadi Rp 16.250 per liter kemarin (10/6), dia kini harus menghitung ulang. "Bisa-bisa tiap hari minimal Rp 50 ribu untuk BBM saja. Makin berat pengeluaran," katanya kepada Radar Bromo Grup Jawa Pos. Di Kota Blitar, Jawa Timur, Isnaini, pengguna Pertamax, juga kaget dengan tingginya kenaikan harga tersebut. "Cukup terasa bagi masyarakat yang sehari-hari menggunakan kendaraan untuk bekerja," katanya kepada Radar Blitar Grup Jawa Pos.

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi memperkirakan bahwa kenaikan harga Pertamax bakal mendorong laju inflasi, apalagi di tengah kondisi ekonomi riil yang sedang lesu seiring melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. "Jumlah kelas menengah akan terus turun, sekarang kan tinggal 17,3 persen," ungkapnya, kepada Jawa Pos kemarin.

Mereka, lanjut Tulus, dimungkinkan turun kelas dari kelompok menengah menjadi rentan miskin. Apalagi, kelompok ini dianggap cukup mampu sehingga tidak tersentuh jenis bantuan apa pun dari pemerintah. Tulus menambahkan, dalam kondisi saat ini, kelas menengah akan sangat membatasi pengeluaran dan menjadi lebih selektif dalam berbelanja. Efek makronya tentu akan membuat ekonomi kian lesu. Klimaksnya, kondisi tersebut akan berdampak pada kelas bawah yang semakin tertekan secara ekonomi.

Prinsip Transparansi

Sementara itu, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional Mufti Mubarok menegaskan bahwa setiap kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat harus mengedepankan prinsip transparansi, keadilan sosial, dan perlindungan konsumen. "Kenaikan yang cukup besar dalam waktu singkat berpotensi menimbulkan guncangan psikologis maupun ekonomi bagi konsumen," ujar Mufti. Ia menilai, pemerintah dan badan usaha penyedia energi perlu menyampaikan secara terbuka dasar perhitungan dan alasan kebijakan kenaikan harga. Hal itu agar masyarakat memperoleh kepastian dan pemahaman yang memadai.

Advertisement

Mufti menjelaskan bahwa indikator ekonomi makro tidak selalu sejalan dengan kondisi riil rumah tangga. "Pertumbuhan ekonomi, stabilitas inflasi, maupun peningkatan investasi belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Ketika harga BBM naik, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat karena mempengaruhi biaya transportasi dan harga berbagai kebutuhan pokok," katanya.(mas/bud/mia/ttg)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Purbaya: Harga Minyak Dunia Turun, Pertamax Juga Berpotensi Turun

Purbaya: Harga Minyak Dunia Turun, Pertamax Juga Berpotensi Turun

Ketegangan di Timur Tengah yang mereda, demikian pula volatilitas dan tingkat ketidakpastian pasar. Semuanya, kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan sentimen positif bagi negara-negara berkembang,...

Harga Minyak Dunia Turun, Pertamina Evaluasi Harga Pertamax

Harga Minyak Dunia Turun, Pertamina Evaluasi Harga Pertamax

PT Pertamina Patra Niaga (PPN) membuka peluang penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis pertamax menyusul tren penurunan harga minyak dunia. Hal ini merupakan imbas dari meredanya konflik Iran-AS di...

Pertamax Naik, Mobil Listrik Makin Dilirik

Pertamax Naik, Mobil Listrik Makin Dilirik

Kenaikan harga Pertamax dinilai berpotensi mendorong minat masyarakat beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Namun, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)...

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer